Aksi Cepat PDIP Tangani Bencana Gempa di NTT
PDI Perjuangan (PDIP) menunjukkan respons yang cepat dan komprehensif terhadap bencana gempa bumi yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam upaya membantu korban bencana, partai berlogo banteng moncong putih ini telah melakukan langkah-langkah strategis yang dipimpin langsung oleh para tokoh penting.
Instruksi Langsung dari Ketua Umum
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengungkapkan bahwa instruksi tanggap darurat tersebut diberikan langsung oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Saat jajaran pengurus pusat partai baru saja tiba di Sumatera Utara, Sabtu (15/8/2026), telepon dari Megawati masuk. Ibu Mega menyampaikan rasa prihatin yang mendalam dan berdoa bagi seluruh warga Flores yang terkena musibah gempa.
“Begitu mendarat di Bumi Silangit, saya menerima telepon dari Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Profesor Dr. Megawati Soekarnoputri. Beliau menyampaikan rasa prihatin yang sangat mendalam dan berdoa bagi seluruh warga Flores yang terkena musibah gempa. Atas instruksi langsung Ibu Ketua Umum, seluruh jajaran PDI Perjuangan segera melakukan langkah-langkah gotong royong turun ke lapangan,” kata Hasto Kristiyanto.
Gerakan Relawan Kesehatan
Menindaklanjuti arahan Megawati, Hasto menjelaskan bahwa pergerakan armada tanggap bencana PDIP dipimpin langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BAGUNA) PDIP Tri Rismaharini. Ia didampingi oleh Ribka Tjiptaning untuk mengoordinasikan tim relawan kesehatan.
“Hari ini Ibu Tri Rismaharini memimpin langsung operasi BAGUNA di lapangan, didampingi Ibu Ribka Tjiptaning yang mengerahkan seluruh relawan kesehatan. Seluruh jajaran DPD dan DPC PDI Perjuangan se-Nusa Tenggara Timur diinstruksikan segera mengambil langkah darurat mitigasi bencana, mendirikan dapur umum, serta memberikan pertolongan pertama kepada masyarakat yang menjadi korban,” jelas Hasto.
Perhatian Khusus pada Ibu-Ibu dan Anak Balita
Ia menambahkan, Megawati secara khusus memberikan perhatian besar terhadap penanganan korban dari kalangan ibu-ibu dan anak balita. “Ibu-ibu dan anak-anak Balita memerlukan perhatian khusus. Dari asupan makanan balita, obat-obatan, hingga kebutuhan khusus perempuan. Tidak hanya itu, Ibu Mega sampai menyiapkan daftar khusus kebutuhan tanggap darurat yang langsung diberikan kepada Bu Risma,” terang Hasto.
Agenda Groundbreaking dan Forum Silaturahmi
Kedatangan Hasto di Silangit sendiri sebenarnya dalam rangka agenda Groundbreaking kantor DPC PDIP Kabupaten Samosir serta menghadiri Forum Silaturahmi Kebangsaan. Dalam kunjungan ini, Hasto didampingi oleh Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, serta jajaran DPP seperti Johanes Oberlin Tobing, Guntur Romli, dan Aryo Seno Bagaskoro. Hadir pula jajaran DPD PDIP Sumut yang dipimpin oleh Ketua DPD Rapidin Simbolon dan Sekretaris Sutarto.
Di hadapan ratusan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang hadir di Samosir, Hasto pun mengajak seluruh peserta silaturahmi untuk melakukan hening cipta mendoakan para korban gempa di NTT.
Respons Cepat sebagai Manifestasi Tradisi Politik Kemanusiaan
Sementara itu, Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menceritakan momen ketika Hasto mendadak menunda seluruh agenda santainya di bandara begitu mendapat panggilan dari Megawati. “Pak Sekjen begitu mendarat langsung menerima arahan dari Ibu Ketua Umum terkait gempa di NTT. Beliau bahkan tidak jadi menikmati kopi, tapi langsung menelpon pengurus DPP dan daerah untuk mengecek laporan serta menggalang bantuan,” ujar Djarot saat membuka Forum Silaturahmi Kebangsaan.
Djarot menegaskan, aksi cepat tanggap ini merupakan manifestasi dari tradisi politik kemanusiaan yang selalu ditanamkan di PDIP. “Inilah tradisi politik kemanusiaan yang konsisten diajarkan oleh PDI Perjuangan. Politik itu bukan sekadar berebut kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan dengan merekayasa aturan, melainkan bagaimana kita hadir secara cepat membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dan mengurus kemanusiaan,” tegas mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.
Kembali pada Ajaran Bung Karno
Djarot juga mengulas kembali ajaran Bung Karno yang menggali ideologi Pancasila dari akar kehidupan rakyat kecil seperti Mbok Sarinah dan Pak Marhaen, sebagai fondasi keberpihakan pada rakyat terpinggirkan (option for and with the poor). Ia mengajak para tokoh agama dan masyarakat di Samosir untuk terus merawat persatuan bangsa di tengah cobaan bencana maupun keberagaman suku dan agama.
“Kita ini satu bangsa. Tidak boleh ada egoisme agama atau etnis. Kita harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain (all for all, one for all). Melalui Silaturahmi Kebangsaan yang kita mulai dari Samosir ini, mari kita perkuat persaudaraan, merawat toleransi, dan terus bergotong royong membela rakyat kecil,” tandas Djarot.












