PLN EPI Perkuat Pasokan Biomassa Co-Firing Jadi 4,07 Juta Ton pada 2027


Peran Biomassa dalam Transisi Energi Nasional

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus mempercepat pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendukung di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung transisi energi sekaligus menekan emisi karbon dari sektor ketenagalistrikan nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir mengungkapkan bahwa selama tahun 2025, perusahaan telah memasok sekitar 2,35 juta ton biomassa. Pasokan tersebut berkontribusi terhadap penurunan emisi sekitar 2,72 juta ton CO₂e. Target peningkatan pasokan biomassa akan terus dilakukan, dengan rencana meningkatkan jumlahnya menjadi 3,65 juta ton pada 2026 dan 4,07 juta ton pada 2027.

Tujuan utamanya adalah untuk mendukung implementasi co-firing di 52 PLTU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Secara kumulatif, selama periode 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton. Pasokan tersebut didominasi biomassa berbasis kayu, terutama sawdust yang menyumbang 54,6% dan woodchip sebesar 22,4%. Kedua jenis biomassa tersebut dinilai telah memenuhi spesifikasi bahan bakar yang dibutuhkan pembangkit listrik.

Hokkop menjelaskan bahwa peningkatan pemanfaatan biomassa tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga membutuhkan penguatan ekosistem secara menyeluruh agar rantai pasok dapat berjalan optimal.

Tantangan Pengembangan Bioenergi

Menurutnya, tantangan pengembangan bioenergi saat ini mencakup kapasitas pengolahan, pemenuhan standar kualitas, sistem penyimpanan, hingga efisiensi distribusi dan logistik menuju pembangkit. Peningkatan volume pasokan harus dibarengi dengan penguatan ekosistem biomassa secara menyeluruh.

Tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada kapasitas pengolahan, standardisasi kualitas, penyimpanan, serta sistem distribusi yang efisien.

Solusi yang Diterapkan PLN EPI

Untuk mengatasi tantangan tersebut, PLN EPI menerapkan skema pengolahan terintegrasi melalui konsep Spoke–Hub. Model ini menghubungkan fasilitas pengumpulan bahan baku dengan pusat pengolahan dan distribusi sehingga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok biomassa.

Selain itu, perusahaan juga memperkuat sistem perdagangan bahan baku melalui Marketplace Biomassa berbasis teknologi digital. Platform ini dirancang untuk menjaga kontinuitas pasokan harian sekaligus memastikan kualitas biomassa yang dikirim ke setiap PLTU tetap sesuai standar.

Pengembangan Infrastruktur Rantai Pasok

Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur rantai pasok nasional, PLN EPI telah mengoperasikan fasilitas pengolahan biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis. Masing-masing fasilitas memiliki kapasitas produksi hingga 10 ton per jam untuk mendukung kebutuhan pasokan biomassa bagi pembangkit.

Ke depan, PLN EPI akan memperluas jaringan pusat pengolahan biomassa dengan membangun hub baru di sejumlah wilayah strategis, antara lain Lebak, Lamongan, Blora, Cilegon, serta kawasan Suralaya.

Target Hingga 2028

“Hingga 2028, PLN EPI menargetkan pembangunan 15 Main Hub/Hub Biomassa di berbagai wilayah Indonesia melalui investasi perusahaan maupun kolaborasi dengan mitra strategis. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik biomassa bagi pembangkit listrik di seluruh Indonesia,” tandasnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *