Ikuti Peluncuran Desa Kerti Bali Sejahtera, Mahasiswa UIN Walisongo Giatkan Pengabdian di Bali


KKN Kolaborasi UIN Walisongo Semarang Ikuti Launching Program Pengabdian Desa Kerti Bali Sejahtera 2026

Pada hari Rabu (15/7/2026), mahasiswa KKN Kolaborasi dari UIN Walisongo Semarang turut serta dalam kegiatan Launching Program Pengabdian Desa Kerti Bali Sejahtera 2026 yang berlangsung di Denpasar. Acara ini menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian program yang mengumpulkan mahasiswa dari berbagai kampus untuk melakukan pengabdian di desa-desa di Pulau Dewata.

Sejak diserahkan secara resmi di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar pada awal Juli lalu, enam mahasiswa UIN Walisongo yang berasal dari berbagai program studi — Ilmu Hukum, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Teknik Informatika, Psikologi, dan Pendidikan Bahasa Inggris — telah bergabung dengan mahasiswa dari UHN Sugriwa, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan IAKN Toraja dalam menjalankan program KKN Kolaborasi.

Sejak awal penempatan, mahasiswa dari empat perguruan tinggi keagamaan negeri ini dibagi ke beberapa desa untuk tinggal bersama warga, mengenal struktur sosial setempat, sekaligus merancang program kerja yang sesuai dengan kebutuhan tiap desa. Launching Desa Kerti Bali Sejahtera menjadi momen penting dalam rangkaian pengabdian tersebut, sekaligus tanda awal dari proses yang sudah berjalan.

Program Desa Kerti Bali Sejahtera 2026 melibatkan kolaborasi antara perguruan tinggi, Pemerintah Provinsi Bali, dan masyarakat desa dalam menjalankan pengabdian yang berorientasi pada kebutuhan lokal. Melalui program ini, mahasiswa diarahkan untuk merancang kegiatan yang relevan dengan kondisi dan kebutuhan warga setempat, sejalan dengan semangat KKN Kolaborasi yang telah mereka jalani sejak awal.

Sinergi lintas sektor ini juga dimaksudkan agar program pengabdian tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi desa-desa yang menjadi lokasi penempatan. Konsep Desa Kerti erat kaitannya dengan filosofi masyarakat Bali tentang keharmonisan antara manusia, alam, dan sesama.

Program ini diarahkan bukan sekadar sebagai kegiatan pengabdian musiman, melainkan sebagai ruang kolaborasi jangka panjang antara kampus dan desa, sehingga hasil dari program bisa terus dirasakan warga meski masa KKN telah usai. Gubernur Bali, Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M., menegaskan pentingnya sinergi kampus dan pemerintah dalam program ini. “Dosen dan mahasiswa turun ke desa bersama Pemprov wujudkan Bali yang sejahtera,” ujarnya.

Bagi mahasiswa UIN Walisongo, keterlibatan dalam Launching Desa Kerti Bali Sejahtera menambah pengalaman belajar lintas budaya yang sebelumnya sudah mereka rasakan sejak prosesi penyerahan peserta di UHN Sugriwa. Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang keyakinan turut memperkuat wawasan kebangsaan serta kemampuan merancang program pengabdian yang sesuai kebutuhan warga desa.

Pendekatan kolaboratif lintas kampus dan lintas agama ini juga sejalan dengan semangat moderasi beragama, sekaligus menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam menghadapi keberagaman masyarakat Indonesia di masa mendatang. Salah satu mahasiswa UIN Walisongo, Sherly, mengaku launching program ini semakin menguatkan semangatnya menjalani KKN Kolaborasi di Bali.

Ia menilai proses yang sudah dijalani sejak awal Juli memberi bekal penting sebelum program pengabdian di desa benar-benar dimulai secara penuh. “Setelah beberapa minggu membaur dengan teman-teman dari kampus lain, launching Desa Kerti Sejahtera ini rasanya jadi titik yang menyemangati kami untuk lebih serius terjun ke desa. Kami jadi makin paham bahwa pengabdian ini bukan cuma soal kami, tapi soal kebutuhan nyata warga. Semoga apa yang kami kerjakan nanti benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.”

Pengalaman ini pun turut memperkaya kompetensi akademik mahasiswa, karena mereka dituntut mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah — baik hukum, tafsir Al-Qur’an, teknologi informasi, psikologi, maupun pendidikan bahasa — langsung dalam konteks kebutuhan masyarakat desa. Proses ini menjadi ajang belajar dua arah: mahasiswa berbagi keilmuan, sementara warga desa berbagi kearifan lokal yang tidak selalu didapat di ruang kelas.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *