Antisipasi Kekeringan di Kabupaten Batang
Kabupaten Batang sedang mempersiapkan diri menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung lebih panjang. Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.
Salah satu upaya utama adalah menyiagakan pompa pengairan di sekitar 50 desa. Langkah ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan air irigasi selama masa tanam. Sekretaris Dispaperta Kabupaten Batang, Syam Manohara, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyusun strategi menghadapi ancaman kekeringan, terutama dalam menghadapi musim tanam ketiga dan bahkan keempat.
“Kami menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Kepala BPBD tentang potensi kekeringan di Kabupaten Batang. Dispaperta sudah mempersiapkan langkah-langkah yang harus ditempuh,” ujarnya.
Selain itu, Dispaperta juga memberi peringatan kepada petani agar tidak memaksakan tanam tanpa mempertimbangkan ketersediaan air. Menurut Syam, debit air irigasi akan menyusut selama musim kemarau, sehingga dapat mengganggu produktivitas pertanian.
Penyediaan Pompa Pengairan
Untuk mengatasi masalah tersebut, Dispaperta telah menyiapkan pompa pengairan yang tersebar di sekitar 50 desa. Pompa-pompa ini menjadi salah satu persiapan utama menghadapi musim kemarau.
“Secara data, di 50 desa kita sudah mempunyai pompa untuk mempersiapkan pengairan sawah pada musim tanam berikutnya. Itu menjadi salah satu persiapan kami menghadapi musim kemarau,” jelas Syam.
Selain itu, Dispaperta juga menyesuaikan program pengadaan dan distribusi bantuan benih dari APBD. Penyaluran benih tidak akan dipaksakan jika kondisi lahan belum memiliki pasokan air yang memadai.
“Ketika musim kering seperti ini, kita tidak mungkin mendistribusikan bibit karena lahan yang menjadi sasaran akan kesulitan air. Pengadaan maupun pendistribusiannya bisa dilakukan setelah hujan turun,” tambahnya.
Wilayah yang Perlu Diwaspadai
Beberapa wilayah di Kabupaten Batang dinyatakan sebagai daerah yang perlu diwaspadai mengalami dampak kekeringan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kecamatan Pecalungan, Reban, Tersono, Bawang, Wonotunggal, Bandar, dan Blado.
“Itu kecamatan-kecamatan yang harus kita waspadai mengalami dampak kekeringan. Karena itu kami menyiapkan berbagai langkah antisipasi sejak sekarang,” ujar Syam.
Selain pompa yang telah tersedia di desa-desa, Dispaperta juga memiliki pompa cadangan di dinas yang siap diterjunkan apabila terjadi kondisi darurat. Saat ini, sebagian pompa cadangan masih digunakan di Celapar, dan di gudang juga tersedia sehingga dapat segera dikerahkan ke wilayah yang mengalami kekurangan air.
Kondisi Pertanian Saat Ini
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Kabupaten Batang, Rini Diana Anggriani, menyatakan bahwa hingga saat ini kondisi pertanian di Batang masih relatif aman. Pada Juni 2026, luas tanam padi mencapai 4.390 hektare, dan belum ada laporan lahan sawah yang mengalami kekeringan dari Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).
Menurut Rini, upaya pencegahan telah dilakukan jauh sebelum musim kemarau melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier serta pembangunan berbagai bangunan konservasi air.
Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, Dispaperta berharap produktivitas pertanian di Kabupaten Batang tetap terjaga meski menghadapi ancaman musim kemarau panjang. Petani pun diminta terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian apabila mulai mengalami kesulitan air agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
“Tahun ini cukup banyak penanganan irigasi yang dilakukan. Harapannya bisa menjadi langkah menghadapi dampak El Nino maupun musim kemarau panjang, dan saat ini sudah banyak wilayah yang tertangani melalui program tersebut,” ungkap Dian.












