Pendidikan Inklusif untuk Kesehatan Mental Siswa di Yogyakarta
Di Yogyakarta, sejumlah sekolah mulai menunjukkan perhatian terhadap ekosistem pembelajaran yang inklusif, khususnya dalam menjaga kesehatan mental para siswanya. Salah satu contoh nyata adalah SMP Negeri 4 Pakem yang menggandeng Talk Mental Health Indonesia (TMH.id) melalui program Wellbeing in School Ecosystem (WiSe). Program ini merupakan pendampingan psikososial selama satu tahun penuh yang dirancang untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat secara mental.
Program WiSe melibatkan tiga elemen utama, yaitu siswa, guru, dan orang tua. SMP Negeri 4 Pakem menjadi sekolah pertama yang menjalin kerja sama resmi dengan TMH.id dalam program ini. Kerja sama ini lahir dari kepedulian pihak sekolah terhadap kesejahteraan siswa, guru, dan seluruh komponen sekolah. Selain itu, ini juga menjadi langkah awal bagi TMH.id untuk memperluas jangkauan program kesehatan mental berbasis komunitas ke lingkungan pendidikan formal.
Asesmen Non-Klinis sebagai Dasar Program
Program WiSe di SMP Negeri 4 Pakem dimulai dengan pelaksanaan asesmen non-klinis bagi siswa kelas 7, 8, dan 9 yang mengikuti program boarding. Asesmen ini menjadi dasar pemetaan kebutuhan psikososial siswa secara menyeluruh sebelum program pendampingan lebih lanjut dilakukan.
Selain itu, khusus bagi siswa kelas 9, program turut menghadirkan sesi bersama psikolog yang menekankan pada persiapan mental dalam menghadapi tahun terakhir di jenjang SMP. Fransisca Wulandari, Co-Founder & Programme Lead TMH.id, mengungkapkan bahwa mereka sangat terhormat dipercaya untuk menjadi bagian dari SMP N 4 Pakem yang memiliki kepedulian dan keinginan untuk membangun ekosistem kesehatan mental yang baik.
“Program ini juga wujud dari misi organisasi yang ingin turut aktif dalam menciptakan ekosistem kesehatan mental yang baik dan berkelanjutan bagi remaja dan orang muda,” ujarnya.
Pendekatan Trauma-Informed dan Kontekstual
Melalui kolaborasi ini, TMH.id berharap dapat menghadirkan pendekatan yang trauma-informed dan kontekstual sesuai kebutuhan sekolah. Program ini juga bertujuan menjadi model kerja sama yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di Indonesia.
Data dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kemenkes mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan.
Berdasarkan data tersebut, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).
Langkah Penting untuk Masa Depan Pendidikan
Program WiSe di SMP Negeri 4 Pakem menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mental siswa. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, sekolah dapat membantu siswa menghadapi tantangan psikologis dengan lebih baik.
Inisiatif seperti ini penting untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental di kalangan siswa, guru, dan orang tua. Dengan demikian, lingkungan sekolah bisa menjadi tempat yang aman dan mendukung bagi semua pihak yang terlibat.












