Cuaca  

Cuaca Panas Ekstrem di Sumsel, Ini Penjelasan BMKG


Wilayah Sumsel Memasuki Awal Musim Kemarau

Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) resmi memasuki awal musim kemarau sejak awal Juni. Kondisi ini ditandai dengan suhu udara yang terik, berkisar antara 33 hingga 35 derajat celsius. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang memengaruhi iklim di wilayah tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Awal Musim Kemarau

Menurut Kasi Observasi, Data, dan Informasi BMKG Sumsel SMB II Palembang, Shinta Mediany, awal musim kemarau di Sumsel sudah mulai terasa sejak Juni. Salah satu indikatornya adalah suhu udara yang semakin panas akibat kurangnya curah hujan.

“Kondisi beberapa hari ini memang sudah terasa terik, karena memang sudah mulai masuk awal musim kemarau. Teriknya suhu yang dirasakan saat ini karena kondisi atmosfer yang tidak mendukung kelembapan udara. Sehingga memang, suhu udara akan terasa terik di siang hari termasuk juga pada malam hari,” jelasnya.

Selama musim kemarau, kondisi cuaca akan lebih kering dari biasanya. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya curah hujan dan kelembapan udara. Potensi pertumbuhan awan juga sangat sedikit. Selain itu, pola angin timuran atau monsun Australia yang aktif berdampak pada massa udara yang minim.

“Suhu udara yang ada di Sumsel maksimum 33 sampai 35 derajat celsius pada siang hari. Makanya, siang hari akan terasa sangat panas, karena dipengaruhi beberapa faktor tadi,” tambahnya.

Pengaruh El Nino dan Siklon Gaemi

Turunnya curah hujan yang mulai semakin sedikit dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang sudah mulai aktif dari lemah menuju sedang. Ditambah lagi dengan adanya Siklon Gaemi, yang juga berpengaruh terhadap suhu udara dan pola angin yang ada di wilayah Sumsel.

Faktor-faktor inilah yang juga membuat minimnya tutupan awan, sehingga membuat atmosfer menjadi kering dan terasa terik pada siang hari hingga malam hari. BMKG Sumsel memprediksi kemarau terjadi sedikit lebih panjang dari biasanya.

Prediksi Musim Kemarau yang Lebih Panjang

BMKG Sumsel memperkirakan bahwa musim kemarau akan berlangsung lebih lama hingga Oktober. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. Di bulan September, kemarau masih akan terjadi karena pengaruh El Nino.

“Pengaruhnya selain minimnya curah hujan dan membuat suhu udara terasa terik, pastinya juga bisa menyebabkan terjadinya karhutla yang sangat tinggi,” ujarnya.

Risiko Karhutla yang Tinggi

Dengan kondisi cuaca yang kering dan suhu yang tinggi, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat. BMKG memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap potensi bahaya ini. Selain itu, masyarakat juga perlu memperhatikan kesehatan dan menjaga kelembapan tubuh agar tidak terkena dampak negatif dari cuaca yang ekstrem.

Tips untuk Menghadapi Cuaca Ekstrem

  • Masyarakat disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari yang terik.
  • Menjaga kelembapan tubuh dengan minum air putih secara cukup.
  • Menggunakan perlengkapan pelindung seperti topi, kacamata hitam, dan tabir surya.
  • Memastikan lingkungan rumah tetap bersih dan tidak menumpuk bahan-bahan mudah terbakar.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *