Pemain Argentina Terancam Sanksi FIFA Setelah Bentangkan Spanduk Politik Malvinas


Drama Duel Inggris vs Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026

Pertandingan antara Inggris dan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 berlangsung sangat sengit. Meskipun pertandingan telah usai, insiden yang terjadi setelah laga memicu perhatian global. Tim Tango, yang sukses mengalahkan Inggris dengan skor 2-1, kini berpotensi mendapatkan sanksi dari FIFA.

La Albiceleste memenangi pertandingan ini melalui gol Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez. Meski kemenangan diraih, drama tidak berakhir di situ. Setelah merayakan kemenangan, beberapa pemain Argentina membawa spanduk yang menimbulkan kontroversi.

Dalam video dan foto yang beredar, bek Argentina Lisandro Martinez dan Giovani Lo Celso terlihat memegang spanduk dengan tulisan “Las Malvinas Son Argentinas”. Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah “Malvinas (Falkland) adalah milik Argentina”. Keduanya tampak tersenyum sambil menunjukkan spanduk tersebut ke arah suporter di tribune.

Perlu diketahui bahwa perselisihan antara Argentina dan Inggris terkait Kepulauan Falkland atau Malvinas bermula dari invasi Inggris ke Argentina selama Perang Napoleon pada awal abad ke-19. Inggris mengeklaim Kepulauan Falkland pada tahun 1774 dan menegaskan kembali kekuasaannya pada tahun 1832.

Pada tahun 1982, pemerintah militer Argentina melakukan invasi untuk merebut wilayah tersebut dari Inggris. Konflik berlangsung hingga Juni 1982 dan berakhir dengan penyerahan diri Argentina. Secara keseluruhan, tiga warga sipil, 255 tentara Inggris, dan 649 tentara Argentina tewas dalam konflik tersebut.

Kembali pada tindakan yang dilakukan Martinez dan Lo Celso, Argentina berpotensi terkena sanksi berat oleh FIFA. Pasalnya, FIFA melarang keras penggunaan simbol politik dalam pertandingan. Aturan FIFA menyatakan bahwa peralatan tidak boleh memiliki slogan, pernyataan, atau gambar politik, agama, atau pribadi. Pemain dilarang memperlihatkan pakaian yang menampilkan slogan, pernyataan, atau gambar politik, agama, pribadi, atau iklan selain logo produsen.

Untuk setiap pelanggaran, pemain dan/atau tim akan dikenai sanksi oleh penyelenggara kompetisi, asosiasi sepak bola nasional, atau FIFA. FIFA akan menunggu laporan atas hasil pertandingan sebelum membuat keputusan. Sayangnya, tidak ada jangka waktu pasti sampai keputusan akhir resmi dikeluarkan oleh FIFA.

Spanduk berbau politis juga melanggar Kode Etik Stadion FIFA. Materi seperti spanduk, bendera, selebaran, pakaian, dan perlengkapan lainnya yang bersifat politis, menyinggung, dan/atau diskriminatif dilarang. Termasuk kata-kata, simbol, atau atribut lain yang bertujuan untuk melakukan diskriminasi terhadap suatu negara, individu, atau kelompok berdasarkan ras, warna kulit, etnis, asal kebangsaan atau sosial, identitas dan ekspresi gender, disabilitas, bahasa, agama, opini politik atau opini lainnya, kelahiran, kekayaan atau status lainnya, orientasi seksual, atau atas dasar lainnya.

Sebelumnya, FIFA juga melarang pengibaran bendera Iran pra-Revolusi 1979 dalam pertandingan Piala Dunia 2026. Hal ini menunjukkan bahwa FIFA sangat ketat dalam menjaga netralitas dan keamanan dalam setiap pertandingan internasional.

Penutup

Insiden ini menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga mencakup aspek politik dan budaya. FIFA berkomitmen untuk menjaga netralitas dan mencegah penggunaan simbol politik dalam pertandingan. Dengan demikian, para pemain dan tim harus lebih waspada dalam menunjukkan sikap mereka di lapangan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *