Daerah  

Pengalaman Medis Relawan Indonesia di Gaza Jadi Topik Kajian Ilmiah


Pengalaman Kemanusiaan Relawan Medis Indonesia di Gaza Diangkat ke Panggung Ilmiah

Pengalaman dan praktik klinis para relawan medis Indonesia di Gaza, Palestina mendapatkan pengakuan internasional. Pengalaman yang dilakukan oleh Tim Emergency Medical Team (EMT) Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) kini diangkat ke panggung ilmiah melalui The 1st International Conference on Humanity and Global Solidarity (ICONHUM 2025). Acara ini menjadi momen penting untuk memperkenalkan kontribusi nyata dari para relawan dalam konteks global.

Ketua Umum BSMI, Djazuli Ambari menyampaikan bahwa kerja kemanusiaan yang dilakukan oleh para relawan memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Namun, selama ini belum terdokumentasi secara sistematis. Melalui ICONHUM 2025, diharapkan pengalaman tersebut dapat menjadi literatur medis dan kemanusiaan internasional.

“Setiap tindakan medis yang dilakukan di Gaza, baik operasi darurat, penanganan trauma, penyembuhan luka kompleks, hingga misi evakuasi adalah ilmu. Ilmu yang lahir dari penderitaan, keberanian, dan dedikasi. Sudah saatnya pengalaman itu masuk ke jurnal, konferensi, dan kajian akademik sebagai bagian dari kontribusi Indonesia untuk dunia,” ujarnya.

Para dokter, perawat, dan tenaga medis yang pernah bertugas di Gaza akan mempresentasikan temuan klinis mereka, metode penanganan trauma perang, serta penggunaan teknik lanjutan seperti advanced wound healing. Selain itu, mereka juga akan membahas tantangan etis dalam menjalankan misi kemanusiaan di zona konflik.

Dalam ICONHUM 2025 juga digelar Workshop Advance Technique Wound Healing dengan narasumber Prof Basuki Supartono, bersama tenaga medis yang baru kembali dari Gaza. Workshop ini memberikan SKP Kemenkes, menegaskan bahwa kerja kemanusiaan di lapangan tidak hanya memiliki nilai moral, tetapi juga kontribusi profesional yang dapat diakui secara ilmiah dan institusional.

Para peserta workshop mendapatkan pembelajaran langsung tentang teknik penanganan luka akibat bom, amputasi darurat, perawatan pasien dengan keterbatasan alat, serta strategi field hospital management dalam situasi blokade. Hal ini menjadi bukti bahwa pengalaman lapangan bisa diubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Selain itu, ICONHUM 2025 juga memperkenalkan pendekatan baru dalam pencatatan dan dokumentasi kerja kemanusiaan medis. Proses ini mencoba mengubah pengalaman lapangan menjadi pengetahuan ilmiah yang dapat dipublikasikan. Para relawan EMT Indonesia difasilitasi untuk menyusun scientific paper, publikasi medis, dan laporan akademik berbasis data lapangan yang mereka kumpulkan selama bertugas di Gaza.

Dengan adanya acara ini, diharapkan pengalaman para relawan medis Indonesia di Gaza dapat menjadi referensi penting bagi komunitas medis internasional. Selain itu, ICONHUM 2025 juga menjadi wadah untuk membangun kolaborasi antara para ahli medis, peneliti, dan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara.

Melalui inisiatif ini, diharapkan ada kesadaran bersama bahwa kerja kemanusiaan tidak hanya berupa bantuan material, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang dalam bentuk ilmu pengetahuan dan pengembangan profesional. Dengan demikian, kontribusi Indonesia dalam bidang kemanusiaan bisa lebih dikenal dan dihargai secara global.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *