Cuaca Panas di Indonesia: Penyebab dan Dampak pada Kesehatan
Beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir mengalami cuaca panas yang cukup ekstrem. Di Surabaya, suhu udara mencapai 36 derajat Celsius, namun karena tingkat kelembapan yang tinggi, kondisi tersebut bisa terasa seperti 40-41 derajat Celcius. Perkiraan ini disampaikan oleh Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda Oky Sukma Hakim.
Menurutnya, memasuki bulan Oktober, tutupan awan cenderung lebih banyak sehingga sinar matahari tidak terlalu menyengat. Namun, peningkatan kelembapan membuat suasana menjadi lebih gerah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun intensitas sinar matahari berkurang, kondisi cuaca tetap terasa nyaman bagi tubuh manusia.
Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa cuaca panas di Indonesia disebabkan oleh kombinasi gerak semu Matahari dan pengaruh monsun Australia. Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat yang mengurangi pembentukan awan. Akibatnya, paparan sinar matahari langsung mencapai permukaan Bumi secara maksimal. Menurut prediksi Guswanto, cuaca panas akan terjadi hingga akhir Oktober atau awal November 2025.
Batas Maksimal Suhu yang Bisa Ditoleransi Tubuh
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances (2020), batas suhu panas yang dapat ditoleransi tubuh manusia adalah suhu bola basah (wet-bulb temperature) sebesar 35 derajat Celsius. Suhu ini berbeda dari suhu udara biasa yang dilaporkan oleh BMKG. Suhu bola basah diukur menggunakan termometer yang dibungkus kain basah dan memperhitungkan kelembapan udara.
Kelembapan sangat penting karena semakin lembap udara, semakin sulit keringat menguap dari kulit. Penguapan keringat adalah cara tubuh untuk menurunkan suhu internal. Jika kelembapan tinggi, tubuh tidak mampu melakukan proses pendinginan dengan efektif.
Peneliti NASA, Colin Raymond, menjelaskan bahwa kombinasi antara suhu tinggi dan kelembapan ekstrem bisa sangat berbahaya. Contohnya, suhu 46,1 derajat Celsius dengan kelembapan 30 persen dapat menghasilkan suhu bola basah sekitar 30,5 derajat Celsius (masih bisa ditoleransi). Namun, suhu 38,9 derajat Celsius dengan kelembapan 77 persen dapat menghasilkan suhu bola basah 35 derajat Celsius, yang sudah mencapai batas kritis tubuh manusia.
Mengapa Tubuh Tidak Bisa Menahan Suhu Ekstrem?
Manusia tidak dapat bertahan lama dalam kondisi suhu dan kelembapan tinggi karena tubuh kehilangan kemampuan untuk mengatur suhu internalnya. Jika suhu bola basah melampaui suhu tubuh manusia, Anda masih bisa berkeringat, tetapi tubuh tidak dapat mendinginkan diri ke tingkat yang dibutuhkan untuk berfungsi normal. Kondisi ini dapat menyebabkan hipertermia, yakni ketika suhu tubuh melebihi 40°C. Gejalanya meliputi denyut nadi cepat, kebingungan, kulit gatal, pingsan, hingga koma.
Selain itu, cuaca panas juga mempercepat dehidrasi karena air menguap cepat dari kulit dan sistem pernapasan. Jika cairan tubuh tidak segera digantikan, volume darah bisa menurun dan mengganggu fungsi organ vital. Menurut laporan Popular Mechanics, kekurangan cairan dapat mengakibatkan kerusakan organ, kematian sel, hingga serangan jantung akibat terganggunya sirkulasi darah.
Meski begitu, kematian akibat panas tidak terjadi seketika. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam bagi panas ekstrem untuk merusak organ tubuh. Namun, durasi pastinya sulit dipastikan karena tak etis untuk diuji langsung pada manusia. “Tidak ada cara untuk mengetahui secara pasti durasinya,” ujar Raymond.
Cara Jaga Tubuh Tetap Aman Saat Cuaca Panas
Untuk menjaga tubuh tetap berfungsi optimal di tengah cuaca panas, kunci utamanya adalah menjaga suhu inti tubuh tetap dingin. Berikut langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Minum air putih secara rutin
- Mandi dengan air hangat untuk membantu tubuh beradaptasi
- Gunakan kompres es di area tubuh tertentu
- Pilih pakaian berbahan katun atau linen yang menyerap keringat
- Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari
Selain itu, jaga agar lingkungan tetap sejuk dengan memperlancar sirkulasi udara, menutup jendela saat siang hari, serta menggunakan kipas angin atau pendingin ruangan (AC) bila memungkinkan. Dengan langkah-langkah ini, tubuh akan lebih mudah beradaptasi dengan cuaca panas dan menghindari risiko kesehatan yang serius.






