Festival Port Numbay Explore Kayo Batu Dimulai dengan Tradisi Naita
Festival Port Numbay Explore Kayo Batu secara resmi dibuka dengan pelaksanaan tradisi adat Naita atau Timba Cacing Laut (Laor) di Kampung Kayo Batu, pada Selasa, 7 Oktober 2025. Acara ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Asisten III Setda Kota Jayapura, Fredrick Awarawi, yang hadir dalam acara pembukaan tersebut menegaskan komitmen pemerintah kota untuk menjadikan tradisi sebagai identitas dan jati diri masyarakat Port Numbay. Ia menyatakan bahwa tradisi adat dan budaya adalah bagian penting dari kepribadian masyarakat setempat.
“Tradisi adat dan budaya adalah identitas dan jati diri kita, sebagai anak negeri Port Numbay, Negeri Matahari Terbit Kota Jayapura,” ujar Awarawi. Ia menekankan bahwa tradisi Naita harus dihormati sebagai warisan leluhur dan dilestarikan sebagai kebanggaan yang tidak akan tergerus oleh waktu.
Menurutnya, Pemkot Jayapura telah mengangkat dan melestarikan tradisi adat Naita melalui Festival Port Numbay. Tahun ini, Dinas Pariwisata kota Jayapura bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Wilayah XXII Papua dalam penyelenggaraan Festival Port Numbay Explore Kayo Batu.
“Festival Port Numbay Explore Kayo Batu memiliki tema khusus dalam bahasa Kayo Batu. Yeoya One Muema Tahi Muena Rjai, yang berarti Merajut Budaya di Atas Pasir dan Laut,” papar Awarawi. Ia menjelaskan bahwa tema tersebut mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa laut, pantai, dan tanah adalah ruang hidup yang melahirkan nilai-nilai kearifan lokal, persaudaraan, dan kebersamaan di Port Numbay.
Tradisi Naita, yang merupakan bagian dari rangkaian ‘Ai Atu Traditional Attraction’ festival, menjadi simbol kekayaan budaya yang ada di wilayah tersebut. Dengan pelaksanaan tradisi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dan menghargai warisan budaya yang sudah ada sejak dulu.
Lebih lanjut, Fredrick Awarawi berharap agar Festival Port Numbay tidak hanya melestarikan tradisi, tapi juga berfungsi sebagai ajang promosi wisata dan pendorong ekonomi kreatif. “Festival Port Numbay juga kiranya dapat bermanfaat sebagai ajang promosi wisata, meningkatkan kreatif ekonomi melalui keterlibatan UMKM lokal,” katanya.
Ia berharap tradisi Naita dapat terus dilakukan tidak hanya di Kayo Batu, tetapi juga di 10 Kampung Adat lainnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kekayaan budaya yang ada di wilayah Port Numbay tetap terjaga dan dikenal oleh generasi mendatang.
Tujuan dan Harapan Masa Depan
Festival Port Numbay Explore Kayo Batu bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat setempat. Dengan menghadirkan tradisi Naita, festival ini memberikan wadah bagi masyarakat untuk memperkenalkan dan merayakan keunikan budaya mereka.
Selain itu, festival ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Melalui kolaborasi dengan UMKM lokal, diharapkan dapat muncul inovasi baru yang memperkaya kreativitas masyarakat. Hal ini juga akan membantu meningkatkan daya tarik wisatawan yang datang ke kawasan Port Numbay.
Pemkot Jayapura dan mitra kerja telah menetapkan strategi jangka panjang untuk memastikan bahwa festival ini tidak hanya berlangsung satu kali, tetapi menjadi acara rutin yang terus berkembang. Dengan perencanaan yang matang dan partisipasi aktif dari masyarakat, diharapkan Festival Port Numbay Explore Kayo Batu akan menjadi contoh sukses dalam pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata.






