Pada peristiwa tragis yang terjadi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, bangunan musala ambruk dan menewaskan sejumlah santri yang sedang melaksanakan sholat berjamaah. Insiden ini mendapat perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto, yang langsung memberikan instruksi kepada pemerintah daerah dan menteri terkait untuk segera melakukan penanganan.
Peran Pemerintah dalam Penanganan Bencana
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah memerintahkan agar seluruh pihak terkait segera bertindak. Instruksi tersebut mencakup proses evakuasi korban serta penanganan darurat yang dilakukan oleh tim SAR. Prasetyo menjelaskan bahwa presiden terus memantau situasi secara langsung dan memastikan semua pihak memberikan perhatian penuh terhadap kejadian ini.
Presiden juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap seluruh bangunan pesantren, terutama dari segi keamanan dan keselamatan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa semua pondok pesantren memiliki struktur bangunan dan infrastruktur yang aman.
Detail Peristiwa Ambruknya Bangunan Musala
Bangunan musala di Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin (29/9/2025), saat ratusan santri sedang melaksanakan sholat berjamaah. Peristiwa ini terjadi ketika bangunan lantai empat runtuh hingga ke lantai dasar. Saat itu, sekitar 100 santri sedang berada di lantai dasar musala, sehingga banyak dari mereka terjebak di bawah puing-puing.
Insiden ini terjadi di tengah proses renovasi bangunan musala di lantai tiga. Proses evakuasi membutuhkan upaya besar karena banyak puing berukuran besar yang rentan ambruk dan membahayakan korban yang masih terjebak.
Upaya Evakuasi dan Korban yang Terluka
Lebih dari 400 petugas pencarian dan penyelamatan (SAR) diterjunkan untuk mengevakuasi para korban. Namun, proses ini sangat sulit karena kondisi puing-puing yang tidak stabil. Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Budi Irawan menyatakan bahwa hingga Ahad (5/10/2025), jumlah korban meninggal dunia mencapai 36 orang. Ia memperkirakan masih ada 27 santri yang terjebak di bawah puing-puing bangunan musala.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Surabaya mencatat jumlah korban selamat per Sabtu (4/10) meningkat menjadi 104 orang setelah satu santri yang sebelumnya hilang dilaporkan dalam kondisi selamat.
Langkah-Langkah yang Diambil Pasca-Insiden
Setelah insiden ini, pemerintah dan lembaga terkait mulai mengambil langkah-langkah preventif. Selain penanganan darurat, evaluasi keamanan bangunan pesantren akan dilakukan secara menyeluruh. Hal ini bertujuan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Seluruh pihak, termasuk pemerintah provinsi Jawa Timur dan menteri terkait, diharapkan dapat bekerja sama untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan penghuni pondok pesantren. Dengan demikian, masyarakat dapat merasa lebih aman dan percaya bahwa pihak berwenang akan segera bertindak jika terjadi bencana atau insiden serupa.


