Daerah  

Menghadapi Era Digital dan Bonus Demografi, Kemendikdasmen dan Komisi X DPR RI Siapkan Strategi Cemerlang


Pentingnya Penguatan Karakter Anak Indonesia

Di tengah arus teknologi digital yang semakin deras, pemerangkapan adiksi gawai menjadi ancaman serius terhadap perkembangan anak-anak. Dalam konteks ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI kembali menegaskan pentingnya penguatan karakter sejak dini melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH). Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, sehat secara fisik, dan kuat secara moral.

Dalam kegiatan sosialisasi di Kabupaten Pandeglang, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Komunikasi dan Media, Arif Jamali, menyampaikan perhatiannya terhadap ancaman brain rot akibat paparan gawai yang berlebihan. Ia menjelaskan bahwa anak-anak kini tumbuh di era media sosial di mana banyak muncul video pendek yang memanjakan dopamin. Hal ini membuat otak mencari kepuasan instan, sehingga anak mudah cemas dan sulit fokus.

“Gerakan 7 KAIH—mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, hingga tidur cepat, adalah cara sederhana namun ilmiah untuk mengembalikan keseimbangan fungsi otak dan membentuk ketahanan karakter,” jelas Arif di hadapan ratusan pemangku kepentingan pendidikan.

Kebijakan Nasional yang Kuat

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa pembiasaan baik ini bukan sekadar program jangka pendek, melainkan kebijakan nasional yang memiliki landasan kuat. Ia mengatakan bahwa Pemerintahan Presiden Prabowo melalui Asta Cita keempat berkomitmen memperkuat pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, dan karakter bangsa.

Komitmen itu sudah diwujudkan Kemendikdasmen lewat Surat Edaran Bersama Nomor 1 Tahun 2025 yang melibatkan Kemendikdasmen, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Agama. “Kami mengajak Catur Pusat Pendidikan, keluarga, sekolah, masyarakat, dan media untuk memastikan 7 KAIH menjadi kebiasaan sehari-hari anak Indonesia,” ungkap Rusprita.

Tantangan Ganda yang Di Hadapi Indonesia

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan ganda, bonus demografi sekaligus ancaman stunting, di tengah era kecerdasan buatan yang berkembang cepat. Ia menegaskan bahwa Bung Karno pernah menegaskan bahwa yang pertama harus dibangun setelah merdeka adalah national character building.

“Jika kita tidak menyiapkan generasi dengan karakter tangguh, kita akan kesulitan menghadapi peradaban baru. Konsistensi menjalankan 7 KAIH adalah investasi 10–20 tahun untuk melahirkan generasi emas yang cerdas, berkarakter, dan percaya diri,” ujar Bonnie.

Bonnie juga menyoroti hasil survei internasional PISA 2022 yang menunjukkan penurunan kemampuan literasi dan numerasi Indonesia. “Ini alarm bagi kita semua. Pembiasaan gemar belajar yang menjadi salah satu pilar 7 KAIH sangat relevan untuk mengangkat kembali literasi dan numerasi anak-anak Indonesia,” tambahnya.

Peran Keluarga dan Masyarakat

Penguatan karakter melalui 7 KAIH tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu didukung oleh seluruh komponen masyarakat. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bekerja sama untuk memastikan bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak.

Beberapa kebiasaan yang dimaksud antara lain:

  • Bangun pagi: Membantu anak-anak membangun rutinitas yang sehat dan disiplin.
  • Beribadah: Mengajarkan nilai-nilai spiritual dan kepercayaan.
  • Berolahraga: Meningkatkan kesehatan fisik dan mental.
  • Makan sehat dan bergizi: Memastikan anak-anak mendapatkan nutrisi yang cukup.
  • Gemar belajar: Membangun kebiasaan belajar yang konsisten.
  • Bermasyarakat: Mengajarkan pentingnya kerja sama dan tanggung jawab sosial.
  • Tidur cepat: Memastikan anak-anak memiliki istirahat yang cukup untuk perkembangan optimal.

Dengan mengadopsi kebiasaan-kebiasaan ini, diharapkan anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih tangguh, cerdas, dan berkarakter.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *