Sekolah Rakyat: Solusi Pendidikan untuk Anak dari Keluarga Miskin Ekstrem
Pemerintah melalui Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang mengambil langkah strategis dalam memperkuat akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu. Salah satu inisiatif yang diluncurkan adalah Sekolah Rakyat (SR), sebuah program khusus yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan pendidikan antara masyarakat kaya dan miskin, serta menekan angka anak putus sekolah, terutama dari keluarga miskin ekstrem.
Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah umum karena berada di bawah naungan Dinsos dan seluruh peserta didiknya diasramakan. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat fokus pada pembelajaran tanpa terganggu oleh kondisi ekonomi keluarga mereka. Prioritas utama penerimaan siswa adalah masyarakat yang masuk kategori desil 1 dan desil 2, yaitu kelompok dengan tingkat ekonomi terendah secara nasional.
Kepala Dinsos Kota Serang, Ibra Gholib, menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari program khusus yang digagas oleh Presiden Prabowo. Tujuan utamanya adalah memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat miskin ekstrem, sehingga tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Sekolah Rakyat didirikan untuk menghilangkan kesenjangan pendidikan dan memastikan tidak ada lagi anak putus sekolah dari masyarakat desil 1 dan 2,” ujar Ibra.
Untuk angkatan pertama tahun ajaran 2025–2026, Sekolah Rakyat Kota Serang menerima sejumlah siswa yang berasal dari berbagai latar belakang. Di antaranya adalah 10 anak putus sekolah, tiga anak kelas 3 SD, serta sejumlah siswa lain dari kelas 1 hingga kelas 6. Mereka tersebar di enam kecamatan di Kota Serang.
Ibra menjelaskan bahwa para siswa bukanlah anak jalanan, tetapi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang kesulitan melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Untuk memastikan kesejahteraan siswa, Sekolah Rakyat menyediakan pengasuhan khusus di asrama. Meski demikian, siswa diberi kesempatan untuk pulang ke rumah pada waktu tertentu.
“Mereka bisa pulang saat libur panjang. Selain itu, ada waktu kunjungan dua minggu sekali. Untuk Sabtu-Minggu, tetap ada kegiatan belajar, jadi tidak full libur,” tambah Ibra.
Terkait komitmen dengan orang tua siswa, Ibra menegaskan bahwa tidak ada perjanjian tertulis, melainkan cukup dengan saling percaya. “Sekolah Rakyat ini murni program pemerintah, program Pak Presiden Prabowo. Tujuannya agar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem bisa keluar dari zona tersebut melalui pendidikan. Jadi kalau ada yang keluar di tengah jalan, ya tidak masalah, tidak ada sanksi apa pun,” jelasnya.
Ibra menambahkan bahwa jika ada siswa yang keluar sebelum lulus, maka tempatnya bisa digantikan oleh peserta yang sudah masuk daftar tunggu. “Kuotanya terbatas, hanya 50 untuk SD dan 50 untuk SMP. Kalau ada yang keluar, bisa langsung diisi peserta dari daftar antrian, atau dikosongkan sampai tahun ajaran berikutnya,” pungkasnya.
Struktur Sekolah Rakyat
- Jumlah Siswa:
- 10 anak putus sekolah
- 3 anak kelas 3 SD
- Siswa dari kelas 1 hingga kelas 6
- Lokasi: Bersebaran di enam kecamatan di Kota Serang
- Asrama: Semua siswa diasramakan
- Waktu Pulang: Bisa pulang saat libur panjang dan ada waktu kunjungan dua minggu sekali
- Kuota: 50 siswa untuk SD dan 50 siswa untuk SMP


