Daerah  

20 Ribu Dosis Vaksin Dengue untuk Siswa SD di 3 Kota, Dipantau 3 Tahun


Program Vaksinasi Dengue untuk Siswa Sekolah Dasar

Sebanyak 20.000 dosis vaksin dengue akan diberikan kepada siswa sekolah dasar dalam sebuah penelitian vaksinasi yang dilakukan di tiga kota besar, yaitu Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk memantau efektivitas vaksin serta mengevaluasi dampaknya terhadap kesehatan anak-anak.

Di Jakarta, sebanyak 10.000 dosis vaksin akan diberikan, sedangkan Palembang dan Banjarmasin masing-masing menerima 5.000 dosis. Dalam penelitian ini, total ada 30.000 anak yang menjadi objek pemantauan aktif. Di Jakarta Selatan, terdapat 15.000 anak dengan 10.000 yang mendapatkan vaksinasi dan 5.000 lainnya tidak. Untuk Palembang, jumlah anak yang dipantau adalah 7.500 dengan 5.000 yang menerima vaksin. Sementara itu, Banjarmasin memiliki 7.500 anak yang juga dipantau, dengan 5.000 di antaranya mendapatkan vaksinasi.

Vaksin dengue yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hibah PT Takeda, yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dinas Kesehatan DKI Jakarta, serta akademisi dan pemerintah daerah. Nina Dwi Putri, Koordinator Program Vaksinasi Wilayah Jakarta sekaligus anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa vaksin ini akan diberikan secara gratis kepada anak-anak.

Menurutnya, vaksin dengue sudah beredar di praktik swasta sejak tahun 2022 dengan biaya sekitar Rp500 ribu per dosis. Namun, melalui hibah ini, anak-anak dapat mendapatkan vaksin secara cuma-cuma. “Ini memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Penelitian ini tidak hanya fokus pada pemberian vaksin, tetapi juga pemantauan kesehatan anak selama tiga tahun. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah anak-anak yang menerima vaksin benar-benar terlindungi dari risiko sakit dengue. Jika tidak mengalami penyakit tersebut, maka vaksin ini dianggap sangat bermanfaat dalam mencegah kasus berat hingga kematian.

Dalam pelaksanaannya, penelitian ini melibatkan berbagai pihak, termasuk sembilan puskesmas, sepuluh rumah sakit rujukan, serta 106 sekolah dasar di Jakarta Selatan. Nina juga menjelaskan bahwa efek samping ringan seperti nyeri, pegal, atau demam pasca-vaksinasi adalah hal yang wajar. Reaksi ini menunjukkan bahwa tubuh sedang membentuk kekebalan. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami bahwa reaksi ini bukanlah hal berbahaya, melainkan proses alami.

Menurut Nina, pengendalian nyamuk sebagai vektor DBD sudah dilakukan, tetapi pencegahan langsung melalui imunisasi bisa menjadi pelengkap strategi yang lebih efektif. “Tujuan utamanya adalah jangan sampai anak-anak kita jatuh sakit berat atau meninggal karena dengue,” katanya.

Sri Rezeki Hadinegoro, Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menilai pentingnya pemantauan aktif terhadap vaksinasi dengue yang diberikan kepada anak-anak sekolah dasar. Ia menyatakan bahwa kelompok usia ini rentan mengalami kasus berat dengue dan sering membutuhkan perawatan di rumah sakit. Meskipun vaksin ini sudah disetujui oleh Badan POM, pemantauan tetap diperlukan, terutama dari sisi keamanan dan efektivitasnya.

Fadjar Surya Mensing Silalahi, Plh. Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, menyatakan bahwa keberhasilan strategi ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat luas. Kolaborasi ini sejalan dengan strategi global WHO yang menargetkan nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.

Dr. Arif Abdillah, Head of Medical Affairs Takeda, menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya dengue sekaligus memperkuat kerja sama lintas sektor. Tujuan akhirnya bukan hanya mengurangi angka kasus, tetapi juga memastikan ketahanan kesehatan masyarakat agar lebih siap menghadapi ancaman penyakit menular di masa depan.

Ari Fahrial Syam, Dekan FKUI, menyampaikan bahwa sinergi lintas kampus dan sektor menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan penyakit menular seperti dengue. Ia merasa bangga dapat bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Sriwijaya Palembang, Fakultas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, serta Takeda dalam pemantauan aktif vaksinasi dengue ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *