Daerah  

Ini Alasan BMKG Pasang Sensor Tanah Usai Gempa Situbondo


Pemantauan Kerentanan Tanah Pasca-Gempa di Desa Sumberwaru

Tim dari Stasiun Geofisika Pasuruan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur telah memasang sensor seismograf di Desa Sumberwaru, salah satu desa yang paling terdampak gempa berkekuatan M5,4 di Kabupaten Situbondo. Alat ini dipasang dengan tujuan untuk mengetahui penyebab banyaknya kerusakan pada bangunan di wilayah tersebut setelah gempa mengguncang pada Kamis sore, 25 September lalu.

Ahli Madya BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Syawaldin Ridha, menjelaskan bahwa alat tersebut digunakan untuk mengukur tingkat kerentanan tanah pasca-gempa. Dengan data yang diperoleh, pihaknya dapat menentukan apakah kerusakan bangunan disebabkan oleh struktur tanah yang tidak stabil atau karena kualitas konstruksi bangunan yang tidak memadai.

“Alat ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi tanah setelah gempa, sehingga kami bisa mengetahui penyebab utama kerusakan bangunan di desa ini,” ujarnya pada Jumat, 26 September 2025.

Dampak Gempa di Empat Desa Terdampak

Desa Sumberwaru merupakan salah satu dari empat desa di Kecamatan Banyuputih yang mengalami kerusakan parah akibat gempa tersebut. Berdasarkan catatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Situbondo, terdapat sebanyak 60 unit rumah warga yang rusak di Desa Sumberwaru. Selain itu, ada 16 rumah rusak di Desa Sumberanyar, 19 rumah di Desa Wonorejo, serta 4 unit lainnya di Desa Sumberejo. Jika dijumlahkan, total kerusakan mencapai 99 unit rumah dalam berbagai tingkatan, mulai dari yang ringan hingga berat.

Gempa yang awalnya tercatat dengan magnitudo 5,7 kemudian diperbaiki menjadi M5,4, terjadi pada pukul 16.04 WIB pada hari Kamis. Episentrum gempa berada sekitar 18 kilometer di tenggara laut Desa Sumberwaru. Meskipun gempa terjadi di laut dan kedalamannya hanya 12 kilometer, tidak ada potensi tsunami yang muncul akibat peristiwa ini.

Proses Pemantauan dan Analisis Data

Sensor pengukur kerentanan tanah akan dipasang secara bergiliran di beberapa desa yang terdampak gempa M5,4. Setiap kali pemasangan dilakukan, tim membutuhkan sekitar dua jam untuk mendeteksi kondisi tanah pasca-gempa. Setelah data dikumpulkan, BMKG akan melakukan analisis lebih lanjut untuk menentukan penyebab utama kerusakan bangunan.

“Setelah mendapatkan data perbandingan, BMKG akan membuat kesimpulan apakah kerusakan bangunan disebabkan oleh kekuatan gempa yang tinggi, struktur bangunan yang tidak standar, atau faktor struktur tanah,” jelas Syawaldin.

Langkah Pengamanan dan Evaluasi

Selain pemasangan sensor, pihak BMKG juga melakukan evaluasi terhadap kondisi geofisika wilayah tersebut. Hal ini penting untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat dan pemerintah setempat agar dapat mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan bencana di masa depan.

Dengan adanya alat pemantau ini, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada terhadap risiko gempa dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kondisi tanah dan struktur bangunan di lingkungan mereka. Selain itu, data yang diperoleh juga akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merancang program perbaikan infrastruktur dan peningkatan kesiapsiagaan bencana.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *