Daerah  

Ratusan Siswa Keracunan, MBG di Bandung Barat Dihentikan Sementara


Kekhawatiran atas Kasus Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Bandung Barat

Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Kejadian ini terjadi secara bersamaan di dua kecamatan, yaitu Cipongkor dan Cihampelas, sehingga memicu kekhawatiran akan keselamatan dan kualitas makanan yang diberikan kepada para pelajar.

Di Kecamatan Cipongkor, sejumlah sekolah mengalami kejadian serupa, termasuk SMK Karya Perjuangan, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan Madrasah Aliyah (MA) Syarif Hidayatullah. Sementara itu, di SMKN 1 Cihampelas, puluhan siswa juga mengalami gejala keracunan dan harus dilarikan ke Puskesmas setempat.

Camat Cihampelas, Agus Rudianto, menyampaikan bahwa laporan sementara menyebutkan ada 52 siswa yang mengalami gejala keracunan, dengan 19 di antaranya membutuhkan penanganan medis di fasilitas kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah tidak hanya terbatas pada jumlah korban, tetapi juga tingkat keparahan kondisi mereka.

Wakil Ketua DPRD KBB, Dadan Supardan, mengecam kejadian tersebut dan mendesak pemerintah daerah serta pusat untuk menghentikan sementara program MBG di seluruh wilayah KBB. Menurutnya, ini adalah langkah penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, mengingat kasus keracunan telah terjadi tiga kali dalam waktu dekat.

“Kita sudah melihat tiga kali kejadian keracunan dalam waktu singkat, yang menimpa ratusan siswa. Ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Dadan. Ia menegaskan bahwa penghentian sementara program MBG diperlukan agar bisa dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyebab kejadian tersebut.

Dadan menyarankan agar hasil pemeriksaan sampel makanan dan muntahan di Laboratorium Jawa Barat segera diperoleh. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah penyebab keracunan sama atau ada faktor lain yang berkontribusi. “Kita harus tahu akar permasalahannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melanjutkan program MBG,” tambahnya.

Selain itu, ia menilai perlu adanya perbaikan menyeluruh pada program MBG, terutama di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Evaluasi dan pembenahan harus mencakup berbagai aspek, seperti sumber daya manusia, pola masak, standar kualitas bahan baku, kebersihan dapur, serta ketersediaan ahli gizi di setiap SPPG. Selain itu, pengawasan ketat dari instansi terkait juga diperlukan.

Dadan juga mengkritik volume porsi makanan yang terlalu besar di setiap SPPG. Setiap SPPG rata-rata harus menyiapkan 3.000 hingga 4.000 porsi makanan per hari. Menurutnya, hal ini dapat memengaruhi kualitas makanan yang disajikan. “Mereka harus memasak sejak tengah malam atau dini hari, sehingga banyak makanan yang sudah keburu basi saat didistribusikan ke sekolah,” jelasnya.

Dengan demikian, upaya pencegahan dan peningkatan kualitas program MBG sangat penting untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para siswa. Langkah-langkah evaluasi dan perbaikan harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *