Spekulasi tentang Altseason Mulai Menggema di Komunitas Kripto
Spekulasi mengenai dimulainya altseason, yaitu momen ketika altcoin tampil sebagai pemimpin pasar dan melampaui kinerja Bitcoin, semakin ramai dibicarakan oleh komunitas kripto. Pada kuartal ketiga 2025 ini, lonjakan harga Ethereum dan beberapa altcoin besar seperti Solana, XRP, hingga Dogecoin telah memicu antusiasme, meskipun sebagian analis mengatakan bahwa tren ini mungkin sudah melewati puncaknya.
CEO Alphractal, Joas Wedson, menyebutkan bahwa tanda-tanda altseason sudah terlihat jelas melalui peningkatan likuidasi posisi leverage altcoin yang kini lebih tinggi daripada Bitcoin. Hal ini menunjukkan bahwa para trader mulai lebih percaya diri dalam berinvestasi pada altcoin dibanding sebelumnya.
“Likuidasi altcoin saat ini lebih tinggi daripada Bitcoin, artinya trader lebih aktif di pasar altcoin. Ini menjadi sinyal kuat bahwa rotasi modal dari Bitcoin ke altcoin sedang berlangsung,” ujar Wedson dalam laporan QuickTake CryptoQuant.
Data menunjukkan bahwa dari Januari hingga Desember 2024, mayoritas posisi likuidasi berasal dari Bitcoin. Namun, sejak awal 2025, tren ini berubah. Indikator Cumulative Liquidation Delta Bitcoin vs Altcoin terus menurun, menandakan bahwa dominasi Bitcoin semakin melemah.
Saat ini, total kapitalisasi pasar kripto mencapai USD 3,93 triliun atau sekitar Rp 64.059 triliun, dengan altcoin mendominasi 40,4 persen atau sekitar Rp 25.857 triliun. Meski demikian, Altseason Index versi CoinMarketCap masih berada di angka 46, yang masih di bawah ambang batas 75 yang biasanya menandai altseason klasik.
Menurut CEO platform kripto NoOnes, Ray Youssef, altseason bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah setengah jalan. Dalam wawancara dengan BeInCrypto, ia menyebut bahwa lonjakan harga Ethereum sejak rebound dari USD 1.500 (sekitar Rp 24,4 juta) pada April lalu merupakan tanda awal altseason.
“Banyak orang mengira altseason baru saja dimulai. Padahal, kita mungkin sudah berada di tengah-tengahnya. April adalah awalnya. Juni sempat melambat, tetapi sejak akhir Juli, pasar altcoin kembali panas,” ujar Youssef.
Data juga mendukung pernyataannya. Dominasi Bitcoin (BTC.D) turun ke 59,3 persen, yang merupakan angka terendah sejak Februari 2025. Sementara itu, Altcoin Season Index versi BlockchainCenter naik ke 53. Lebih dari 30 altcoin tercatat melampaui performa Bitcoin dalam 90 hari terakhir.
Namun, tidak semua analis sepakat bahwa saat ini sudah memasuki fase altseason penuh. Cas Abbé, misalnya, menyebut ini sebagai Ethereum Season. “Mayoritas likuiditas masih mengalir ke Ethereum. Altseason penuh hanya akan dimulai saat ETH mencetak harga tertinggi baru. Mungkin Oktober atau November,” tulis Abbé di akun media sosialnya.
Youssef juga melihat pergerakan Ethereum sebagai langkah awal bagi altcoin lain. Jika Solana, XRP, dan koin besar lainnya berhasil menunjukkan pertumbuhan signifikan, mereka bisa keluar dari bayang-bayang Ethereum dan menjadi pemain utama pasar.
“Ketika modal institusi masuk ke Ethereum, volatilitasnya akan berkurang. Maka yang akan naik berikutnya adalah koin-koin spekulatif seperti Dogecoin, Shiba Inu, Pepe, dan Floki,” tambahnya. Ia menilai koin dengan utilitas nyata dan dukungan institusi akan bertahan saat ‘crypto winter’ datang. Sisanya? Bisa jadi hilang dari pasar selamanya.
Dengan situasi saat ini, dapat disimpulkan bahwa altseason mungkin belum sepenuhnya hadir, tetapi gemuruhnya sudah mulai terdengar. Bagi investor, ini menjadi momen penting untuk menentukan langkah, apakah ikut berspekulasi atau menunggu momentum berikutnya.
