Kehilangan yang Mendalam: Kehidupan dan Karier Wiranto
Profil Lengkap Jenderal TNI (Purn) Wiranto
Wiranto adalah tokoh penting dalam sejarah politik dan militer Indonesia. Ia lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1968, karier militernya berkembang pesat. Salah satu puncak kariernya terjadi saat ia menjabat sebagai Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dari 1998 hingga 1999. Sebelumnya, ia pernah menjadi Ajudan Presiden Soeharto dari tahun 1989 hingga 1993.
Wiranto juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1997. Selama masa jabatannya sebagai Panglima ABRI, ia memimpin negara di tengah dinamika politik yang rumit. Ia menjadi satu-satunya Panglima ABRI sebelum reformasi yang memisahkan Polri dari ABRI dan mengganti nama ABRI menjadi TNI.
Setelah pensiun dari militer, Wiranto beralih ke dunia politik. Ia berkontribusi dalam berbagai jabatan strategis di pemerintahan lintas era. Pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, ia tetap dipertahankan sebagai Panglima TNI. Kemudian, pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia diangkat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.
Meskipun tidak berhasil menang dalam Pilpres 2004 dan Pilpres 2009, Wiranto tetap aktif dalam politik. Ia mendirikan Partai Hanura pada tahun 2006 dan menjadi ketua umum partai tersebut. Pada masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), ia kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan serta Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.
Saat ini, ia masih aktif sebagai Penasihat Khusus Presiden di era Prabowo, membuktikan bahwa pengalamannya masih sangat dibutuhkan oleh negara.
Riwayat Pendidikan dan Pangkat Militer
Wiranto memiliki latar belakang pendidikan yang kuat. Ia menempuh pendidikan dasar di SMP Negeri 2 Surakarta (1963) dan SMA Negeri 4 Surakarta (1965). Setelah itu, ia melanjutkan studi di Akademi Militer Nasional pada 1968. Selama kariernya, ia juga mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan lanjutan seperti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (1984), Lemhannas RI (1995), dan Sekolah Tinggi Hukum Militer AHM-PTHM (1996).
Dalam pangkat militer, ia mulai dari Letnan Dua pada 1968, kemudian naik secara bertahap hingga mencapai pangkat Jenderal TNI pada 1997.
Karier dan Jabatan Penting
Selama kariernya, Wiranto pernah menjabat berbagai posisi penting, antara lain:
- Ajudan Presiden Republik Indonesia (1989–1993)
- Kepala Staf Kodam Jayakarta (1993)
- Panglima Kodam Jayakarta (1994)
- Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) (1996)
- Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) (1997)
- Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Panglima ABRI) (1998)
- Panglima Tentara Nasional Indonesia (Panglima TNI) (1999)
- Menteri Pertahanan Keamanan (1998–1999)
- Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (1999–2000)
- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (2016–2019)
- Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (2019–2024)
- Penasihat Khusus Presiden (2025–2029)
Berduka atas Kehilangan Istri Tercinta
Tidak hanya dikenal sebagai tokoh penting, Wiranto juga dikenal sebagai suami yang setia. Baru-baru ini, ia harus menerima kabar duka atas kepergian istri tercintanya, Rugaiya Usman. Istri yang akrab disapa ibu Uga itu meninggal dunia di Bandung pada Minggu (16/11/2025) pukul 15.55 WIB.
Wiranto menyampaikan bahwa istrinya telah lama menderita sakit dan sempat dirawat di RSPAD. Meski kondisinya sempat membaik, akhirnya ia harus pergi untuk selamanya. Ibu Uga meninggal setelah menjalani proses perawatan di Bandung.
Sebelum wafat, Wiranto dan Rugaiya baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-50. Momen tersebut menjadi kenangan yang sangat berharga bagi keluarga besar Wiranto. Kepergian ibu Uga tentu menjadi duka mendalam bagi semua anggota keluarga, terutama bagi Wiranto sendiri.
Upacara Kematian dan Proses Pemakaman
Setelah jenazah tiba di rumah duka di daerah Bambu Apus, Jakarta Timur, salat jenazah diikuti oleh berbagai tokoh penting, termasuk mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono dan mantan Wakil Panglima TNI Jenderal (Purn) Fachrul Razi. Wiranto memohon agar segala kesalahan dan kekhilafan istrinya dimaafkan.
Jenazah akan dimakamkan di Astana Wukir Sirna Raga, Kelurahan Delingan, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar, pada Senin (17/11/2025) pagi. Beberapa karangan bunga juga telah tiba di area pemakaman, termasuk dari Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) dan putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
