Daerah  

Tangis Pecah! Keluarga Korban Ponpes Al Khoziny Minta SAR Angkat Puing dengan Alat Berat


Proses Evakuasi yang Penuh Duka

Dengan diiringi isak tangis keluarga para korban, Tim SAR gabungan akhirnya memulai proses pengangkatan puing-puing dari bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo yang roboh. Tindakan ini dilakukan atas permintaan keluarga korban, yang menginginkan proses evakuasi dilakukan menggunakan alat berat.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menjelaskan bahwa pihaknya telah menawarkan opsi evakuasi manual. Namun, keluarga secara bulat memutuskan agar puing-puing yang menimpa tubuh korban segera diangkat dengan alat berat.

β€œMereka menyatakan sudah cukup karena sudah tiga hari. Sekarang tolong segera dievakuasi menggunakan alat-alat berat,” ujarnya.

Proses evakuasi ini tentu bukan keputusan yang mudah. Wajah keluarga terlihat dipenuhi kesedihan, bahkan tangis pecah mengiringi setiap langkah yang dilakukan oleh tim SAR. Meski berat hati, pihak keluarga berusaha ikhlas demi korban yang masih terjebak di reruntuhan segera ditemukan.

Keputusan Keluarga yang Menyentuh

Saat berdialog dengan pihak SAR, keluarga korban menyatakan bahwa jika di balik reruntuhan ditemukan jenazah, mereka siap melakukan pengurusan sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing. Hal ini menunjukkan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi dari keluarga korban.

Berdasarkan hasil deteksi melalui alat canggih seperti drone thermal, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kehidupan dari balik reruntuhan. Untuk memperkuat keputusan tersebut, pihak SAR membuat berita acara yang ditandatangani oleh wakil dari warga masyarakat yang ada keluarganya di lokasi kejadian. Ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa keputusan tidak diambil sembarangan.

Kronologi Tragedi

Insiden tragis ini terjadi pada Senin (29/9) sore sekitar pukul 15.35 WIB. Bangunan empat lantai itu ambruk saat para santri sedang melakukan Salat Asar rakaat kedua di lantai 1. Akibatnya, banyak santri terjebak dalam puing-puing bangunan.

Hingga Kamis pagi (2/10), tercatat sebanyak 108 orang menjadi korban tragedi ini. Dari jumlah tersebut, 5 dilaporkan meninggal dunia dan 103 korban selamat. Sementara total korban yang berhasil dievakuasi SAR adalah 18 orang.

Tim SAR gabungan kini terus berupaya untuk menyelamatkan korban yang masih terjebak di reruntuhan bangunan. Mereka menyebut sudah menyiagakan 5 alat berat berupa crane sejak pagi. Sejak sekitar pukul 11.30 WIB, satu crane setiap shift digunakan untuk mengangkat puing-puing bangunan.

Proses yang Berat dan Membutuhkan Kesabaran

Proses evakuasi ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Setiap langkah yang diambil harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak membahayakan korban yang masih terjebak. Tim SAR bekerja sama dengan keluarga korban untuk memastikan semua korban dapat ditemukan dan dievakuasi dengan aman.

Selain itu, pihak SAR juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk keluarga korban dan lembaga-lembaga yang berkompeten. Semua upaya dilakukan demi keselamatan dan kesejahteraan korban serta keluarga mereka.

Dalam situasi seperti ini, keberadaan tim SAR sangat penting. Mereka tidak hanya bertugas menyelamatkan nyawa, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada keluarga korban yang sedang berduka. Dengan kerja keras dan komitmen, harapan untuk menemukan semua korban yang masih terjebak tetap terjaga.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *