Daerah  

Propam Tahan Empat Polisi Terkait Penangkapan Ketua DPW NasDem Sumut


Penempatan Khusus Empat Personel Polisi Akibat Insiden Salah Tangkap

Empat anggota reserse dari Kepolisian Resor Kota Besar Medan (Polrestabes Medan) kini menjalani penempatan khusus di Provost Bagian Profesi dan Pengamanan Polda Sumatera Utara. Penempatan ini dilakukan setelah empat polisi tersebut menjalani pemeriksaan oleh Propam pada hari Kamis, 16 Oktober 2025.

Insiden yang memicu pemeriksaan ini terkait dugaan kesalahan dalam proses penangkapan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem Sumatera Utara, Iskandar. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumut, Komisaris Besar Ferry Walintukan, mengonfirmasi bahwa keempat personel tersebut telah di-patsus (penempatan khusus) di Polda Sumut.

Ferry tidak memberikan identitas lengkap dari empat polisi tersebut. Ia juga menolak memberi detail lebih lanjut tentang pelanggaran yang diduga dilakukan dalam insiden penangkapan Iskandar. Namun, ia menjelaskan bahwa keempat polisi itu sedang menjalani tugas untuk membongkar pelaku scamming dan judi online. Tugas ini berasal dari pengembangan kasus tersangka yang sebelumnya ditangkap oleh Polrestabes Medan.

Menurut Ferry, nama inisial I (Iskandar) muncul sebagai target karena ada informasi bahwa pelaku scamming dan judi online akan melakukan perjalanan keluar kota Medan. Untuk memastikan, anggota polisi memeriksa daftar penumpang atau manifest Garuda. Hal ini dilakukan karena biasanya pelaku penipuan dan judi online sering menggunakan nama pendek atau nama yang mirip.

Keempat polisi tersebut kemudian bergerak ke Bandara Kualanamu untuk memverifikasi apakah yang dimaksud adalah Iskandar. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata tidak ada kesamaan antara target penangkapan dan Iskandar.

Insiden salah tangkap terjadi di dalam pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 193 rute Kualanamu–Soekarno Hatta pada Rabu, 15 Oktober 2025, sekitar pukul 19.25 WIB. Saat itu, Iskandar sudah duduk di kursi 37 H dan penumpang lainnya sedang bersiap untuk lepas landas. Tiba-tiba sejumlah pria berpakaian preman mengaku sebagai polisi datang bersama petugas Avsec Bandara Kualanamu dan awak kabin Garuda. Mereka menyampaikan rencana menangkap Iskandar.

Iskandar mengungkapkan bahwa ia sempat membaca surat perintah penangkapan atas nama dirinya. Ia merasa heran karena polisi hanya mem-profiling, bukan hendak menangkap. Namun, ia dipaksa turun dari pesawat dan kopernya dikeluarkan.

Ia memberi penjelasan kepada orang-orang yang mengaku polisi tersebut. Ia bertanya, “Saya bilang, Iskandar yang mau kalian tangkap siapa? Saya Iskandar tapi bukan yang kalian mau tangkap.” Menurutnya, hanya karena nama sama dengan target penangkapan, ia diturunkan dari pesawat dan dimintai keterangan.

Insiden ini membuat Iskandar merasa dipermalukan oleh polisi. Ia merasa bahwa tindakan yang dilakukan oleh aparat tidak sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Peristiwa ini menjadi perhatian publik dan menimbulkan pertanyaan tentang prosedur penangkapan serta perlindungan hak asasi manusia dalam operasi kepolisian.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *