Kematian Jurnalis Foto Prancis dalam Serangan Pesawat Tak Berawak di Ukraina
Seorang jurnalis foto Prancis, Antoni Lallican (37 tahun), tewas dalam serangan pesawat tak berawak di wilayah Donbas, Ukraina. Insiden ini terjadi pada Jumat (3/10) dan melukai seorang jurnalis asal Ukraina, Georgiy Ivanchenko. Kedua jurnalis tersebut dievakuasi dari dekat daerah Druzhkivka, sekitar 20 kilometer dari garis depan di wilayah Donetsk.
Lallican bergabung dengan Brigade Lapis Baja Keempat Ukraina di dekat garis depan saat serangan terjadi. Pihak militer Ukraina menyatakan bahwa kedua jurnalis mengenakan alat pelindung diri dan rompi antipeluru yang bertuliskan “PRESS”. Saat ini kondisi Ivanchenko stabil.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, serta pihak militer Ukraina menyalahkan Rusia atas serangan ini. Mereka menilai bahwa penargetan jurnalis adalah kejahatan keji dan pelanggaran hukum humaniter internasional. Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menyebut tindakan Rusia sebagai upaya sengaja menargetkan para jurnalis.
Federasi Jurnalis Eropa dan Internasional menyatakan bahwa Lallican menjadi jurnalis pertama yang tewas akibat serangan pesawat tak berawak dalam perang Ukraina. Sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022, setidaknya 17 jurnalis telah meninggal. UNESCO mencatat jumlah korban tewas mencapai 22, termasuk Arman Soldin dari AFP yang tewas akibat tembakan roket pada 2023.
Macron menyampaikan kesedihan mendalam atas kematian Lallican, yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan sekutu Ukraina di Eropa. Lallican dikenal sebagai fotografer berprestasi yang karyanya muncul di media terkemuka Prancis dan internasional. Ia juga memenangkan hadiah Victor Hugo untuk “fotografi yang berkomitmen” tahun lalu.
Perjalanan Karier Lallican
Lallican, yang berbasis di Paris, telah meliput berita internasional untuk berbagai publikasi seperti Le Monde di Prancis dan Der Spiegel di Jerman. Mediapart, situs berita Prancis tempat ia pernah menjadi kontributor, menyebutnya sebagai “fotografer hebat dan kolega yang luar biasa.”
Agensi fotografi Hans Lucas, tempat ia bekerja, mengatakan bahwa Lallican rutin melakukan perjalanan ke Ukraina dan mengenal daerah itu dengan baik. Ia dikenal mendokumentasikan pengepungan Kiev dan tetap menjadi saksi realitas perang serta dampaknya bagi warga sipil.
Lallican awalnya belajar menjadi apoteker, namun beralih karier pada usia 30 tahun setelah melakukan perjalanan ke Kashmir. Di sana, ia menyaksikan pejuang kemerdekaan bertempur dengan pasukan tentara India, yang membangkitkan gairahnya terhadap fotografi berita.
Pekerjaannya membawanya ke berbagai wilayah seperti Sudan, Suriah, Lebanon, Israel, dan wilayah Palestina. Dalam sebuah festival pada tahun 2022, ia menyatakan bahwa fotografi perang adalah profesi yang sangat berisiko dan membutuhkan persiapan serta kewaspadaan tinggi.
Kehidupan dan Kontribusi Lallican
Di luar dunia jurnalistik, Lallican juga mendokumentasikan isu-isu seperti perumahan miskin di Paris. Karyanya tidak hanya menyoroti konflik dan perang, tetapi juga masalah sosial yang dihadapi masyarakat.
Kepedulian dan dedikasinya terhadap fotografi berita membuatnya dihormati oleh rekan-rekan sejawat dan organisasi jurnalis internasional. Direktur jenderal Reporters Without Borders (RSF), Thibaut Bruttin, menyatakan bahwa Lallican meninggal saat menjalankan tugasnya sebagai saksi konsekuensi perang.
Organisasi ini menyerukan penyelidikan yang cepat terkait insiden ini. Tuntutan akan keadilan dan perlindungan bagi jurnalis semakin penting dalam situasi konflik seperti ini.
Dengan kematian Lallican, dunia jurnalistik kembali diingatkan akan risiko yang dihadapi para wartawan di medan perang. Mereka tidak hanya meliput berita, tetapi juga menjadi saksi dari kekerasan dan penderitaan yang terjadi di tengah konflik.
