Penutupan Jembatan Timbang Dikaji Karena Pungli dan Ketidakefektifan
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, sedang mempertimbangkan penutupan jembatan timbang sebagai langkah untuk mengatasi masalah pungutan liar (pungli) yang selama ini marak terjadi. Selain itu, jembatan timbang dinilai tidak lagi efektif dalam menjaring truk-truk yang melanggar aturan berat kendaraan, atau over dimension over load (ODOL).
“Jika memang ada pungli yang dilakukan oleh kami, maka jembatan timbang akan ditutup,” ujar Dudy saat berbicara kepada awak media. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak bisa menutup mata terhadap praktik pungli yang merugikan pelaku industri logistik.
Teknologi Weigh in Motion Menggantikan Jembatan Timbang
Salah satu alasan penutupan jembatan timbang adalah penggunaan teknologi Weigh in Motion (WIM). Teknologi ini telah digunakan oleh Kementerian Perhubungan untuk menimbang kendaraan tanpa perlu adanya interaksi langsung antara sopir dan petugas. WIM dapat ditempatkan di jalur tol dengan kerja sama dengan Jasa Marga.
Dengan adanya WIM, kemungkinan terjadinya pungli dapat diminimalkan karena proses pemeriksaan berat kendaraan tidak lagi melibatkan petugas secara langsung. Hal ini juga memberikan keuntungan bagi pelaku usaha logistik, karena prosesnya lebih cepat dan transparan.
Alasan Lain Jembatan Timbang Tidak Efektif
Selain masalah pungli, jembatan timbang juga dianggap tidak efektif dalam mengatasi truk ODOL. Lokasi jembatan timbang umumnya berada di jalan arteri, sementara truk-truk ODOL kini lebih sering melintasi jalan tol. Hal ini menyebabkan jembatan timbang tidak mampu menangkap truk yang melanggar aturan.
“Truk ODOL sekarang lebih memilih jalan tol. Jika jembatan timbang hanya beroperasi 8 jam sehari, truk bisa melewatinya di luar jam operasional tersebut,” kata Dudy. Menurutnya, hal ini membuat jembatan timbang menjadi tidak efektif dalam menjalankan fungsinya.
Pungli Berdampak pada Biaya Logistik
Sebelumnya, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa pungli menjadi salah satu penyebab meningkatnya biaya logistik. Selain itu, pungli juga menjadi alasan banyak pelaku usaha logistik mengoperasikan kendaraan yang melebihi batas berat.
“Satu truk bisa mengeluarkan dana hingga Rp100 juta sampai Rp150 juta setiap tahun hanya untuk pungli,” ujar AHY. Ia menegaskan bahwa jika biaya logistik bisa lebih efisien tanpa pungli, maka tidak ada alasan lagi bagi truk untuk melanggar aturan.
Upaya Memberantas Pungli
AHY meminta seluruh kementerian dan lembaga terkait, termasuk aparat penegak hukum, untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik pungli. Menurutnya, sistem yang lebih adil dan efisien akan mengurangi kebutuhan untuk mengoperasikan kendaraan ODOL.
Dengan penggunaan teknologi seperti WIM dan peningkatan pengawasan, pemerintah berharap dapat mengurangi pungli serta meningkatkan efisiensi dalam transportasi logistik. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan bisnis yang lebih sehat dan transparan.
