mediaawas.com.CO.ID – JAKARTA.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkap rencana impor komoditas energi dari Amerika Serikat (AS) bakal resmi diteken pada 7 Juli 2025.
Salah satunya, Indonesia berkomitmen untuk memborong migas dari Amerika Serikat dengan total mencapai US$15,5 miliar atau sekitar Rp251 triliun (Asumsi kurs: Rp16.214).
Airlangga memastikan bahwa rencana peningkatan impor komoditas dari AS tersebut juga telah dibicarakan dengan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) hingga BPI Danantara.
“Jadi tadi sudah dibahas tentang rencana Indonesia mengenai pembelian energi yang totalnya bisa mencapai 15,5 miliar dolar AS, kemudian terkait juga dengan pembelian barang agritur, dan juga terkait dengan rencana investasi termasuk di dalamnya oleh BUMN dan Danantara,” jelasnya dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (3/7/2025).
Namun demikian, Airlangga masih enggan merinci detail komoditas energi yang bakal diimpor tersebut.
Airlangga menjelaskan bahwa pengumuman komoditas tersebut baru akan dilaksanakan setelah pemerintah resmi mendapatkan kejelasan mengenai penetapan tarif resiprokal.
“Yang kedua terkait detailnya (komoditas energi yang akan diimpor), nanti setelah diumumkan baru kita umumkan juga,” tegasnya.
Sebagai informasi, komitmen RI untuk meningkatkan impor dari AS dilakukan sebagai salah satu strategi negosiasi atas penerapan tarif resiprokal oleh AS, di mana sebelumnya Indonesia dikenai tarif sebesar 32%.
Melalui upaya peningkatan ekspor tersebut, Airlangga menyebutkan bahwa Pemerintah menginginkan Indonesia tidak dikenai tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS), alias 0% tarif resiprokal.
Hal ini disampaikannya mengingat tenggat waktu negosiasi dagang dengan AS tinggal menghitung hari, yakni pada 8–9 Juli 2025.
“Tentu kita ingin agar tarif resiprokal tidak dikenakan terhadap Indonesia. (Sampai nol) ya, tapi tentu mereka punya kebijakan tersendiri,” kata Airlangga.
Airlangga tampaknya cukup percaya diri dengan hal tersebut, mengingat Pemerintah juga telah memberikan penawaran kedua kepada Amerika Serikat, berupa investasi Mineral Kritis (Critical Mineral) dan ekosistem kendaraan listrik (EV).
” Ini lanjutan dari pembicaraan, karena kita sudah memberikan proposal, ada counter proposal, kemudian kita kirim proposal lagi,” pungkasnya.
