Daerah  

Lonjakan Wisatawan Ancam Sampah Kota Batu, DLH Siapkan Strategi Pengendalian


Persiapan Menghadapi Lonjakan Sampah di Kota Wisata Batu

Menjelang liburan Natal dan Tahun Baru, dinamika di Kota Wisata Batu kembali mengalami perubahan yang signifikan. Selain arus wisatawan yang meningkat, peningkatan volume sampah harian juga menjadi isu utama yang harus segera diatasi.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu telah memperkuat skema pengelolaan sampah guna mencegah terjadinya penumpukan, khususnya di kawasan strategis yang sering dikunjungi wisatawan. DLH memperkirakan bahwa jumlah sampah akan meningkat dari 120 ton per hari menjadi sekitar 140 ton per hari selama masa liburan ini. Angka ini hampir sama dengan rekor tertinggi yang biasanya terjadi pada akhir pekan.

Peningkatan volume sampah tidak hanya terjadi di area kota, tetapi juga di desa dan kelurahan. Kombinasi antara kunjungan wisata dan aktivitas masyarakat setempat menjadi faktor utama yang menyebabkan lonjakan sampah musiman. Titik terpadat berada di 21 ruas jalan protokol yang selalu disisir oleh petugas kebersihan, khususnya di dekat destinasi wisata utama seperti Alun-Alun Kota Wisata Batu.

Pada hari-hari biasa, total sampah yang dihasilkan dari 21 ruas tersebut berkisar 30 ton. Namun selama libur Nataru, jumlah tersebut bisa mencapai 50 ton per hari. Untuk mengantisipasi hal ini, DLH telah menyiapkan sejumlah langkah teknis.

Salah satu fokus utama adalah memastikan seluruh unit insinerator di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung berfungsi optimal. Saat ini, tiga insinerator di TPA tersebut memiliki kapasitas maksimal 23 ton per hari. Selain itu, insinerator milik TPS3R Dadaprejo dan Sisir juga siap bekerja penuh dengan kapasitas tambahan total 15 ton per hari.

Optimalisasi semua mesin pembakaran menjadi langkah penting agar volume sampah bisa diproses cepat tanpa menumpuk. Di samping itu, DLH juga memperkuat pengolahan sampah organik melalui fasilitas big composter. Saat ini, kapasitas big composter yang beroperasi baru mencapai 5 ton per hari, jauh di bawah kapasitas ideal 15 ton.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, DLH sedang menyelesaikan pembangunan big composter tahap dua yang direncanakan mulai beroperasi bulan ini. Sistem komposting ini sangat penting mengingat proporsi sampah Kota Batu didominasi sampah organik, yaitu sebesar 60 persen dari total volume, sedangkan sisanya berupa anorganik dan residu.

Selain itu, pemerintah Kota Batu juga tengah memperluas penanganan sampah berbasis desa dan kelurahan melalui penyediaan 16 rumah kompos yang direncanakan rampung bulan ini. Kehadiran rumah kompos diharapkan mampu mengurangi sampah organik dari sumbernya langsung sebelum masuk ke TPA, sehingga beban pengolahan di fasilitas utama tidak semakin berat.

Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Petugas kebersihan atau pasukan kuning saat ini mengikuti pelatihan pengoperasian insinerator dan big composter. Dengan kemampuan baru tersebut, diharapkan sampah yang masuk dapat langsung diproses pada hari yang sama, terutama saat puncak meningkatnya kunjungan wisatawan selama liburan.

Meski besarnya jumlah wisatawan masih sulit diprediksi, DLH tetap optimis bahwa seluruh persiapan dapat menjaga Kota Batu tetap bersih dan nyaman. Melalui kombinasi teknologi pengolahan sampah, armada petugas yang terlatih, serta penguatan pengelolaan sampah di tingkat desa, diharapkan lonjakan sampah selama Nataru dapat tetap terkendali sehingga pengalaman wisata tetap menjadi prioritas utama.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *