Semarang: Kota yang Menawarkan Kombinasi Antara Masa Lalu dan Modernitas
Semarang kini tidak lagi hanya menjadi kota transit. Narasi lama tentang Kota Atlas sebagai “tempat mampir” bagi pelintas Tol Trans-Jawa perlahan menghilang, digantikan oleh wajah baru yang menarik sebagai destinasi wisata utama di Jawa Tengah. Memasuki penghujung tahun 2025, atmosfer Semarang terasa berbeda. Kota ini menyuguhkan perpaduan unik antara romantisme masa lalu dan geliat modernitas yang dinamis.
Berjalan di kawasan Kota Lama misalnya, wisatawan seolah ditarik mundur ke era kolonial dengan deretan gedung art deco yang kini telah beralih fungsi menjadi kafe estetis, galeri seni, dan ruang kreatif. Lampu-lampu jalan bergaya klasik yang menyala saat senja menciptakan suasana syahdu, sejenak melupakan hawa pesisir utara yang terkenal “menggigit”.
Daya tarik Semarang tidak berhenti pada visual arsitekturnya. Di balik megahnya Lawang Sewu dan hiruk-pikuk Simpang Lima, terdapat “jiwa” kota yang sebenarnya: kuliner. Aroma rebung yang khas dari wajan penggorengan lumpia, asap pembakaran bandeng yang mengepul di jalanan, hingga manis gurihnya wingko babat, adalah aroma yang menyambut setiap pelancong.
Bagi wisatawan domestik—khususnya dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya—perjalanan ke Semarang adalah ritual nostalgia rasa. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil menenteng bungkusan besek atau kardus oleh-oleh sebelum kembali ke rutinitas. Apalagi, berdasarkan pantauan tren digital dan ulasan wisatawan di berbagai platform sejak awal November hingga hari ini, sentimen positif terhadap kuliner Semarang terus menanjak, didorong oleh perpaduan penjaga resep legendaris dan munculnya destinasi belanja baru yang instagenik.
Jika Anda sedang menikmati liburan di Semarang dan bingung harus membawa pulang apa, berikut ini beberapa pusat oleh-oleh yang layak dikunjungi:
1. Bandeng Juwana Elrina: Sang Raja Oleh-Oleh
Tidak sah ke Semarang tanpa menenteng kresek dari tempat ini. Bandeng Juwana Elrina di Jalan Pandanaran tetap memegang takhta tertinggi sebagai pusat oleh-oleh terlengkap. Meski antrean sering mengular, sentimen pengunjung tetap positif berkat pelayanan yang cekatan. Produk andalannya, Bandeng Duri Lunak dan Bandeng Asap, dinilai memiliki konsistensi rasa yang tidak pernah berubah. Bagi wisatawan yang tidak punya banyak waktu, lokasi ini adalah penyelamat karena menyediakan hampir seluruh varian jajanan khas Jawa Tengah dalam satu atap.
Lokasi: Jl. Pandanaran No.57, Randusari
Jam Buka: 06.30 – 22.00 WIB
2. Koeta Toea: Destinasi “Hits” Gen Z
Bergeser ke kawasan Pedurungan, Koeta Toea hadir sebagai wajah baru pusat oleh-oleh yang menggabungkan konsep belanja dan gaya hidup. Sejak November 2025, tempat ini viral di media sosial karena arsitekturnya yang bergaya Eropa klasik dan sangat Instagramable. Bukan sekadar toko, Koeta Toea menawarkan pengalaman wisata. Pengunjung memuji suasana “Pasar Eropa” yang dibangun, membuat aktivitas berburu oleh-oleh menjadi konten media sosial yang menarik. Di sini, Anda bisa menemukan jajanan kekinian dan dessert modern yang sedang digandrungi anak muda.
Lokasi: Jl. Brigjen Sudiarto No.448b, Pedurungan
Jam Buka: 09.00 – 21.00 WIB
3. Lunpia Gang Lombok: Legenda di Kawasan Pecinan
Bagi purist atau pencari rasa otentik, Lunpia Gang Lombok adalah kiblatnya. Terletak di gang sempit di samping kelenteng Tay Kak Sie, gerai tertua ini menawarkan lumpia dengan isian rebung dan udang yang padat. Kunci ulasan positif tempat ini terletak pada pengolahan rebungnya yang bersih dan tidak berbau pesing. Wisatawan disarankan datang pagi hari, mengingat stok sering ludes terjual sebelum jam operasional berakhir, terutama di musim liburan sekolah.
Lokasi: Gg. Lombok No.11, Purwodinatan
Jam Buka: 07.00 – 16.00 WIB
4. Tahu Bakso Bu Pudji: Gurih yang Menggigit
Jika lumpia adalah rajanya, maka Tahu Bakso adalah ratunya jajanan Semarang. Tahu Bakso Bu Pudji di kawasan Semarang Barat (Pamularsih) menjadi favorit karena rasanya yang “juara”. Berbeda dengan tempat lain, isian daging sapi di tahu Bu Pudji dikenal sangat padat dan kenyal. Tersedia dalam varian rebus (tahan lama untuk perjalanan jauh) dan goreng (siap santap). Wisatawan kerap merekomendasikan tempat ini sebagai pitstop terakhir sebelum masuk gerbang tol karena lokasinya yang strategis.
Lokasi: Jl. Pamularsih Raya No.15, Semarang Barat
5. Wingko Babat Cap Kereta Api: Manisnya Nostalgia
Di tengah gempuran kue-kue artis modern, Wingko Babat Cap Kereta Api tetap berdiri kokoh dengan resep aslinya. Sentimen positif datang dari wisatawan yang merindukan cita rasa jadul. Dibuat dari kelapa muda asli tanpa pengawet, wingko ini menawarkan tekstur yang lembut, creamy, dan tidak seret di tenggorokan. Karena disajikan fresh, wingko ini hanya tahan 2-3 hari, menjadikannya oleh-oleh eksklusif yang harus segera dinikmati.
Lokasi: Jl. Cendrawasih No.14, Purwodinatan
6. Moaci Gemini: Kenyal yang Memikat
Oleh-oleh yang satu ini kembali naik daun. Moaci Gemini terkenal dengan teksturnya yang sangat lembut dan taburan tepung atau wijen yang wangi. Varian orisinal dengan isian kacang tumbuk tetap menjadi primadona. Namun, kemasan barunya yang premium dan varian rasa modern (seperti cokelat dan oreo) sukses menarik perhatian pasar yang lebih muda. Ulasan Google Maps kerap menyebut moaci ini sebagai “camilan perjalanan terbaik” karena praktis dan tidak berantakan saat dimakan.
Lokasi: Jl. Kartini No.19
7. Loenpia Mbak Lien: Alternatif Modern dan Nyaman
Jika antrean di Gang Lombok terlalu panjang, Loenpia Mbak Lien adalah alternatif terbaik dengan kualitas rasa yang bersaing ketat. Berlokasi strategis di Gang Grajen (Jalan Pemuda), tempat ini menawarkan isian lumpia yang lebih manis-gurih. Kelebihan utamanya adalah varian menu yang lebih inovatif (seperti lumpia seafood) dan area makan yang lebih nyaman. Bagi wisatawan yang sensitif dengan aroma rebung yang kuat, racikan Mbak Lien dinilai lebih “bersahabat” di lidah.
Lokasi: Jl. Pemuda No.1 (Gang Grajen)
