Daerah  

Komandan Prancis Akui Keunggulan Udara Pakistan vs India


Pengakuan dari Komandan Angkatan Laut Prancis Mengenai Jatuhnya Pesawat Rafale India

Pada konferensi internasional Indo-Pasifik yang dihadiri oleh 55 delegasi dari 32 negara, seorang komandan angkatan laut Prancis, Kapten Jacques Launay, memberikan pernyataan mengenai kejadian pertempuran udara antara pasukan Angkatan Udara India (IAF) dan Pakistan Air Force (PAF) pada Mei 2025. Menurutnya, pesawat tempur Rafale milik India ditembak jatuh dalam pertempuran tersebut.

Launay menyampaikan bahwa keberhasilan PAF dalam menghadapi situasi yang rumit bukan disebabkan oleh keunggulan teknologi jet tempur J-10CE China, melainkan karena penanganan yang lebih baik selama pertempuran. Ia menjelaskan bahwa situasi saat itu sangat kompleks dengan lebih dari 140 pesawat tempur saling berhadapan di udara. “Situasinya sangat rumit, tetapi Pakistan mampu menangani situasi tersebut lebih baik daripada musuhnya,” ujarnya dalam sebuah sesi diskusi.

Dalam sesi tersebut, Launay juga membahas mengapa sistem radar Rafale tidak bekerja optimal selama pertempuran. Menurutnya, masalahnya bukan terletak pada teknologi, melainkan pada penggunaannya. “Tidak ada yang salah dengan mesin perangnya, tetapi mesinnya tidak digunakan dengan benar,” katanya. Ia menambahkan bahwa Rafale dapat bersaing dan mengalahkan J-10C China dalam situasi apa pun.

Ketidakseimbangan Representasi Negara di Konferensi

Konferensi ini juga mencerminkan ketidakseimbangan dalam representasi regional. India mengirimkan beberapa delegasi, sementara Pakistan hanya diwakili oleh seorang jurnalis senior. Hal ini menjadi sorotan mengingat pertempuran udara antara kedua negara menjadi topik utama dalam analisis militer.

Seorang delegasi India sempat menyampaikan bahwa laporan tentang jatuhnya Rafale adalah “disinformasi Chinak” dan tidak ada pesawat India yang ditembak jatuh. Namun, Launay mengabaikan pernyataan tersebut dan melanjutkan pembahasannya. Sebagai komandan yang telah menerbangkan Rafale selama 25 tahun, ia memiliki pengalaman luas dalam operasi militer, termasuk di wilayah Timur Tengah hingga Afrika dan Eropa.

Perkembangan Terkini Mengenai Rafale dan Pelatihan Pilot India

Meski pemerintah India belum secara resmi mengakui bahwa pesawat mereka ditembak jatuh, laporan-laporan terus bermunculan dari berbagai belahan dunia. Saat ini, India sedang tertarik untuk membeli versi Rafale yang dirancang untuk angkatan laut (AL), yang mampu mendarat di kapal induk. Versi AL ini juga dilengkapi dengan rudal nuklir, membuat AL Prancis menjadi satu-satunya kekuatan di dunia yang bisa mengerahkan rudal nuklir dari kapal induk.

Para pilot India akan menerima pelatihan di Pangkalan Udara Angkatan Laut Landivisiau milik Kapten Launay. Fasilitas ini juga menjadi tempat di mana ia baru-baru ini berpartisipasi dalam uji coba rudal nuklir. Pangkalan ini menampung satu skuadron yang terdiri dari lebih dari 40 Rafale yang dipersenjatai dengan rudal nuklir dan berfungsi sebagai pusat pelatihan utama Prancis untuk penerbangan angkatan laut berkemampuan nuklir.

Kepercayaan terhadap Kekuatan Rafale dan Kepemimpinan Negara-negara Terkait

Launay menekankan bahwa Rafale tetap menjadi salah satu pesawat tempur terbaik di dunia. Ia juga menyampaikan bahwa Prancis sedang mengembangkan versi F-4 yang lebih canggih. Selain itu, ia mengapresiasi kepemimpinan India dan Pakistan dalam menghindari perang skala penuh dalam situasi yang sulit. “Kami menginginkan perdamaian, tetapi kami siap menghadapi serangan apa pun dari pihak mana pun.”

Perbedaan Pendapat Mengenai Jumlah Pesawat yang Ditembak Jatuh

Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa PAF berhasil menembak jatuh enam pesawat India dalam perang pada Mei 2025. Sementara itu, mantan Presiden AS Donald John Trump menyebut bahwa Pakistan menembak jatuh lima pesawat India, termasuk tiga Rafale, satu Sukhoi Su-30, dan satu Mirage 2000.

Namun, fokus utama dunia justru tertuju kepada jatuhnya pesawat Rafale akibat rudal PL-15 produksi China yang ditembakkan dari jet tempur Chengdu J-10C milik Pakistan. Ini menjadi pertama kalinya pesawat Rafale kalah dalam pertempuran melawan pesawat produksi China, sehingga memicu penurunan saham Dassault Aviation.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *