Daerah  

Kereta Petani-Pedagang: Wujud Kepedulian PT Kereta Api Indonesia


Kereta Petani-Pedagang: Solusi untuk Peningkatan Ekonomi dan Pengurangan Urbanisasi

Kereta petani-pedagang merupakan salah satu inisiatif yang bertujuan untuk memberikan akses transportasi khusus bagi para petani dan pedagang di daerah pedesaan. Inisiatif ini tidak hanya membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan harian, tetapi juga berkontribusi pada perekonomian desa serta mengurangi tingkat urbanisasi.

Sejarah dan Perkembangan Kereta Petani-Pedagang

Sejak dulu, para petani dan pedagang sudah menggunakan kereta sebagai alat transportasi untuk menuju pasar di perkotaan, khususnya Jakarta. Di wilayah barat Jakarta, mereka menggunakan KA Lokal Merak – Tanah Abang, sedangkan di wilayah timur (Karawang dan sekitarnya) menggunakan KA Lokal Purwakarta – Kota. Namun, setelah perpanjangan layanan KRL Jabodetabek hingga Stasiun Rangkasbitung, banyak petani dan pedagang beralih menggunakan KRL.

Pada masa Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka, trem di Jakarta pernah membawa kereta khusus pedagang yang disebut pikoenlanwagen atau kereta khusus pedagang membawa barang yang dipikul. Selama masa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), KAI pernah mengoperasikan KA pasar dan KA campuran kereta penumpang gerbong barang untuk memudahkan penumpang pembawa barang dagangan.

Fasilitas dan Aktivitas Saat Ini

Saat ini, masih tersisa di lintas Stasiun Rangkasbitung – Stasiun Tanah Abang yang melayani petani dan pedagang untuk mengangkut komoditas pertanian dan barang dagangan. Dulu, hewan kambing dan ayam pernah diangkut dengan kereta di lintas tersebut. Di masa lalu, hewan sapi diangkut menggunakan kereta khusus ternak jarak jauh. Ada gerbong khusus kereta ternak dan di beberapa peron stasiun disediakan tempat menaik-turunkan hewan sapi.

Di China, meskipun telah mengembangkan kereta cepat, keberadaan kereta lambat yang singgah di setiap stasiun masih dipertahankan. Kereta ini menjadi moda transportasi andalan warga pedesaan karena para petani dan pedagang menggantungkan hidupnya dengan kereta ini.

Permintaan Tinggi dan Jadwal Keberangkatan

Permintaan dari petani dan pedagang untuk menjual produknya di wilayah Provinsi Banten dengan kereta sangat tinggi. Penumpang yang menggunakan KRL Commuter Line juga meningkat dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang. Oleh karena itu, diperlukan adanya kereta khusus bagi petani dan pedagang di lintas ini yang terpisah dengan kereta penumpang (KRL Commuter Line).

Petani dan pedagang biasanya berangkat mulai jam 4.00 WIB dari Stasiun Rangkasbitung, kemudian berhenti di stasiun keberangkatan lain seperti Stasiun Citeras, Stasiun Maja, dan Stasiun Tenjo. Setelah itu, mereka akan berhenti di Stasiun Parung Panjang, Stasiun Serpong, Stasiun Sudimara, Stasiun Kebayoran, Stasiun Palmerah, dan Stasiun Tanah Abang. Beberapa di antaranya melanjutkan hingga Stasiun Manggarai dengan KRL Commuter Line yang berbeda.

Barang yang Dibawa dan Proses Pengangkutan

Barang yang dibawa oleh petani dan pedagang mencakup hasil pertanian seperti pisang, ketela, cabe, jagung, petai, jengkol, daun pisang, aneka sayur-sayuran, serta dagangan seperti nasi merah, nasi uduk, nasi putih beserta lauk pauk, pisang rebus, ketela rebus, tape, kacang rebus, lemang, pukis, dan sayur matang. Barang tersebut dimasukkan dalam karung, kotak plastik, kantong, atau tas besar.

Di sisi lain, ada sejumlah petani dan pedagang yang desanya jauh dari stasiun, sehingga memilih untuk menginap di stasiun keberangkatan mulai jam 00.00 agar tidak ketinggalan kereta pertama. Hanya jadwal keberangkatan kereta pertama yang diizinkan mengangkut barang dagangan dan hasil bumi.

Manfaat dan Keuntungan

Jika ada kereta khusus petani-pedagang, waktu henti di stasiun bisa diatur hingga 5 menit. Tidak semua stasiun dari Rangkasbitung hingga Tanah Abang perlu berhenti. Kereta cukup berhenti di stasiun yang berpotensi menaikkan dan menurunkan hasil bumi dan barang dagangan.

Keuntungan setelah ada kereta khusus petani-pedagang, seperti menghambat urbanisasi di perkotaan, kapasitas barang yang diangkut bisa lebih banyak, jumlah petani-pedagang bisa ditingkatkan, penumpang tidak terganggu dengan tumpukan barang pedagang dan hasil bumi petani, serta hewan ternak (ayam, bebek, dan kambing) dapat kembali diangkut.

Kolaborasi Pemangku Kepentingan

Perlu peran serta Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Pemda Kabupaten Lebak dengan PT KAI untuk mewujudkan program ini. PT KAI menyediakan kereta khusus bagi petani dan pedagang beserta fasilitas pendukungnya. Direktorat Jenderal Perkeretaapian mengusulkan melalui DIPA di Kementerian Keuangan memberikan subsidi bagi operasional kereta petani-pedagang.

Pemda Kabupaten Lebak menyediakan fasilitas angkutan umum menuju stasiun terdekat. Pemda dapat menyediakan angkutan umum gratis (first mile). Misalnya, kepada sejumlah angkutan umum itu diberikan insentif sebagai pengganti BBM setiap hari dengan kewajiban mengangkut petani dan pedagang menuju stasiun terdekat.

Layanan kereta petani-pedagang dapat diperluas ke lintas kereta yang lain, terutama dulunya pernah ada kereta lokal, misalnya lintas Stasiun Purwakarta – Stasiun Kota, Stasiun Wonogiri – Stasiun Purwosari, Stasiun Rancaekek – Stasiun Bandung, Stasiun Sukabumi – Stasiun Kota. Tidak harus kereta khusus, bisa juga digandengkan dengan kereta penumpang di lintas yang belum ada jaringan kereta listrik.

Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub dapat membuat model pola integrasi. Model itu untuk meningkatkan integrasi berbagai moda transportasi dan multimoda yang mendukung satu sama lain, mendorong penggunaan transportasi umum, dan menciptakan lalu lintas perkotaan/pedesaan yang lebih nyaman.

Bagi petani dan pedagang yang menginap di pelataran teras stasiun, dapat disediakan ruang atau tempat khusus yang terlindung dari kucuran air hujan ketika hujan turun. Dapat disediakan karpet sebagai alas tidur.

Keberadaan kereta yang dikhususkan bagi petani-pedagang dan angkutan umum yang disediakan gratis oleh pemda setempat dapat memudahkan mobilisasi petani dan pedagang untuk distribusi hasil bumi dan barang dagangan. Memfasilitas sarana angkutan baik kereta mau angkutan umum bagi petani dan pedagang akan meningkatkan perputaran ekonomi dari desa ke kota. Serta mengurangi perpindahan warga dari desa ke kota.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *