Daerah  

Jepang digerogoti panas ekstrem, empat orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya dirawat.



mediaawas.com

Heatstroke akibat gelombang panas yang melanda Jepang akhirnya menelan korban jiwa. Empat orang dilaporkan meninggal dunia karena heatstroke.

Dikutip dari South Morning China Post, Sabtu (21/6), Jepang tengah siaga menghadapi gelombang panas yang datang lebih awal dari biasanya. Kenaikan suhu secara drastis terjadi di beberapa wilayah mulai Selasa (18/6) lalu. Di Kota Kofu misalnya, suhu tercatat mencapai 38,2 derajat Celsius. Suhu ini naik sampai 10 derajat di atas rata-rata pertengahan Juni yang biasanya masih masuk musim hujan. Suhu tinggi lainnya tercatat di Prefektur Gunma (37,7°C) dan Shizuoka (37,6°C).

Di Tokyo, memang suhu lebih rendah dibandingkan dengan Kofu atau Gunma. Namun, suhu di sana juga tidak kalah menyengat. Suhu Tokyo dilaporkan mencapai 34,8°C. Kemudian, Osaka 33,4°C. Secara nasional, sebanyak 547 lokasi mencatat suhu di atas 30°C. Badan Meteorologi Jepang (JMA) pun telah mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan. Suhu tinggi diperkirakan akan berlanjut hingga akhir pekan.

Kondisi ini pun menyebabkan empat orang tewas akibat heatstroke. Semuanya merupakan warga lanjut usia. Salah satunya, perempuan berusia 96 tahun yang ditemukan tergeletak di ladang di Gunma sebelum dinyatakan meninggal.

Sementara itu, di Tokyo, pada hari Selasa saja, tercatat sebanyak 169 orang dirawat karena gejala heatstroke. Kemudian, sehari setelahnya, jumlah penderita heatstroke bertambah 57 orang, menurut laporan Agence France-Presse.

According to Professor Yukiko Imada from the Department of Climate System Research at the University of Tokyo, this heat wave is unusual. Because, for the first time since records began, more than 150 locations experienced extreme heat above 35°C in mid-June.

“Ini juga tidak lazim karena front musim hujan (baiu) telah menghilang, padahal seharusnya kita masih berada di musim hujan,” ujar Imada kepada This Week in Asia.

Menurut Imada, penyebab utama panas ekstrem ini adalah perluasan sistem tekanan tinggi Samudra Pasifik yang tidak biasa terjadi pada bulan Juni. Sistem ini biasanya baru meluas ke wilayah Jepang pada Juli atau Agustus.

Furthermore, he also highlighted the three-month weather forecast from JMA which indicated a concerning trend. “There is a high possibility that this year’s temperature will be above normal,” he said.

Tahun lalu, Jepang mencatat suhu musim panas tertinggi dalam sejarah, membuat badan cuaca memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan tingkat panas ekstrem, seperti moshobi (hari sangat panas, di atas 35°C) dan kokushobi (hari panas kejam, di atas 40°C).

Beberapa bagian Prefektur Gunma sempat mencatat suhu di atas 40°C pada Juli tahun lalu, angka yang nyaris tidak pernah terjadi sebelum abad ke-21. Namun sejak tahun 2000, suhu di atas 40°C telah tercatat sebanyak 59 kali. Suhu tertinggi yang pernah tercatat di Jepang adalah 41,1°C, terjadi di Prefektur Saitama pada 2018 dan di Shizuoka pada 2020.

Imada menyatakan bahwa penelitian masih berlangsung untuk memahami gelombang panas saat ini. Dia menilai, kondisi ini turut dipengaruhi oleh pemanasan global yang terjadi di dunia.

Selain itu, lanjut Imada, panas ekstrem dalam dua tahun terakhir juga diyakini dipengaruhi oleh gelombang panas laut di sekitar Jepang. “Penelitian sedang berlangsung untuk memahami mekanisme di balik fenomena gelombang panas laut ini,” ujarnya.

Selama tiga hari terakhir, JMA juga telah mengeluarkan peringatan heatstroke untuk sebagian besar wilayah di Jepang. Seperti, Okinawa, bagian selatan Kyushu, Kyoto, dan Nara.

Index tekanan panas untuk 48 kota besar juga mengidentifikasi tidak ada satu pun kota yang “aman”. Hanya satu kota berada pada kategori hati-hati dengan imbauan minum air secara rutin. Sementara 15 kota lainnya diminta untuk minum air dan sering beristirahat saat berada di luar ruangan. Sedangkan, di 32 kota sisanya, dikeluarkan peringatan keras untuk tidak melakukan latihan fisik berat.

JMA juga merilis panduan untuk mencegah heatstroke. Masyarakat diminta untuk tetap terhidrasi, mencari tempat berteduh jika memungkinkan, menghindari aktivitas berat di luar ruangan, serta memperhatikan kondisi tetangga yang lanjut usia agar tetap aman. Masyarakat juga diimbau untuk tidak ragu-ragu dalam menyalakan pendingin ruangan meskipun khawatir dengan kenaikan tagihan listrik.

“Terasa tahun ini lebih panas dibanding tahun lalu di waktu yang sama,” kata Tomoko Nakamura, pemilik butik di distrik Motomachi, Yokohama. Dia mengaku bahkan telah menggunakan dua AC di rumah.

Dia menambahkan, musim panas yang tiba-tiba datang lebih awal tahun ini menyebabkan penjualan pakaian lengan pendek dan pakaian musim panas meningkat tajam. (mia)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *