mediaawas.com.CO.ID – JAKARTA.
Harga aset logam mulia seperti emas dan perak kompak menguat dalam sepekan terakhir.
Penguatan ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran atas kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) dan prospek perdagangan global yang masih diliputi ketidakpastian.
Sejak Selasa (1/7), para senator Partai Republik di AS telah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak dan anggaran senilai triliunan dolar yang diajukan Presiden Donald Trump.
RUU tersebut kini memasuki tahap pemungutan suara di DPR AS yang dijadwalkan berlangsung hingga 4 Juli.
Selain itu, data ketenagakerjaan versi ADP menunjukkan kejutan negatif, dengan penurunan 33.000 lapangan kerja sektor swasta pada Juni.
Data ini menambah kekhawatiran atas perlambatan ekonomi Negeri Paman Sam.
“Situasi ini membuat investor kembali melirik aset lindung nilai seperti emas dan perak,” kata Tiffani Safinia, Research & Development ICDX kepada mediaawas.com.co.id, Kamis (3/7).
Mengutip
Bloomberg,
Harga emas naik tipis 0,77% secara mingguan ke level US$3.353 per ons troi pada Kamis (3/7), meski mencatat koreksi harian sebesar 0,07%.
Sementara harga perak justru menguat 0,39% secara harian dan naik 0,63% dalam sepekan ke posisi US$36,88 per ons troi.
Tiffani menilai, meski harga logam mulia menguat, ruang penguatan emas cenderung terbatas dalam jangka pendek. Ini seiring munculnya katalis baru dari perkembangan tarif dagang global.
Sebagai informasi, Presiden Trump mengumumkan kesepakatan dagang dengan Vietnam, termasuk pencabutan sebagian tarif untuk produk Vietnam sebagai imbalan atas akses pasar yang lebih luas bagi produk AS.
“Kesepakatan ini meningkatkan minat terhadap aset berisiko dan berpotensi menekan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas,” jelas Tiffani.
Ia menambahkan, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed, outlook fiskal dan utang AS, dinamika geopolitik global, serta pergerakan dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS.
“Permintaan fisik dari bank sentral negara-negara berkembang seperti Tiongkok dan India juga menjadi faktor penting yang mendukung harga emas,” tambahnya.
Sutopo Widodo, Presiden Komisioner HFX International Berjangka menambahkan bahwa emas sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga dan kekuatan dolar AS.
“Jika The Fed memberikan sinyal hawkish atau dolar AS kembali menguat karena faktor lain, harga emas berpotensi kembali tertekan,” ujarnya.
Namun demikian, Sutopo tetap optimis terhadap prospek jangka menengah kedua logam mulia tersebut.
Menurutnya, jika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik tetap tinggi, perak juga akan mendapatkan keuntungan meskipun tidak sebesar emas.
“Permintaan perak juga didukung oleh sektor industri, terutama untuk kebutuhan teknologi dan energi hijau seperti panel surya. Dengan dorongan global menuju energi terbarukan, permintaan industri terhadap perak diperkirakan tetap kuat,” jelas Sutopo.
Ia menyarankan investor untuk memanfaatkan potensi ganda dari peran perak sebagai logam industri dan aset lindung nilai.
“Lakukan diversifikasi dan pemantauan ketat terhadap sentimen pasar. Pertimbangkan untuk mempertahankan alokasi seimbang antara emas dan perak, masuk secara bertahap, dan sesuaikan dengan profil risiko serta tujuan investasi,” imbau Sutopo.
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan, harga emas akan bergerak di kisaran US$ 3.700 – US$ 3.800 per ons troi pada semester II-2025. Adapun harga perak diperkirakan berada di rentang US$ 40 – US$ 42 per ons troi.
