Perubahan Pola Aktivitas Mahasiswa Akibat Suhu Panas di Surabaya
Suhu panas yang terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur, telah mengubah pola aktivitas sebagian besar mahasiswa. Banyak dari mereka memilih untuk menghabiskan waktu di perpustakaan atau kafe daripada di kos-kosan guna menghindari cuaca yang terasa sangat menyengat.
Salah satu mahasiswa yang mengalami kondisi ini adalah Andhini (22). Ia mengatakan bahwa sejak bulan Oktober lalu, suhu di Surabaya semakin tinggi. Dua kipas angin yang dipasang di kamarnya tidak mampu mengurangi rasa panas tersebut.
“Biasanya saya lebih sering berada di kos karena sedang menyelesaikan skripsi, tapi dua kipas angin itu tidak cukup. Suhu yang sangat panas membuat saya merasa pusing,” ujarnya saat dihubungi.
Menurut Andhini, suhu panas di Surabaya terasa sangat nyeri, terutama antara pukul 11.00 hingga 14.00 WIB. Ia menggambarkan sensasi panas itu seperti kulit terbakar dan tidak sehat.
Untuk menghindari kondisi tersebut, ia lebih memilih melakukan aktivitasnya di dalam kafe atau perpustakaan kampus. “Saya biasanya mulai dari pagi sampai sore hari di perpustakaan atau kafe. Jika bekerja di kos, tetap saja panas dan membuat sulit berkonsentrasi,” tambahnya.
Pedagang Es dan Kopi Menikmati Kenaikan Penjualan
Cuaca panas yang terjadi di Surabaya juga menjadi peluang bagi para pedagang es. Salah satunya adalah Astuti, penjual es lilin yang biasa berjualan di sekitar SD Negeri Margorejo VI. Ia mengungkapkan bahwa penjualan esnya meningkat hingga dua kali lipat.
“Dulu saya hanya membawa 100 es lilin, tapi sekarang jumlahnya ditambah menjadi 200 dan selalu habis,” katanya dengan senyum bahagia.
Meski harus melawan panas sambil mendorong gerobak dagangannya, Astuti tidak merasa keberatan. “Kerja pasti capek, tapi harus dihadapi. Selama dagangan laris, mau panas atau hujan tidak masalah,” ujarnya.
Selain itu, Rudi, pedagang kopi keliling, juga mengalami peningkatan penjualan hingga tiga kali lipat. Dari biasanya menjual 100 gelas, kini jumlahnya mencapai 200 hingga 300 gelas per hari.
“Bukan hanya pelajar yang beli, tapi juga pengemudi GoJek dan orang-orang yang bekerja. Terutama pada siang hari ketika panas mencapai puncaknya,” kata Rudi.
Meskipun demikian, Rudi masih berharap agar musim penghujan segera datang. Ia mengatakan bahwa suhu panas yang terus-menerus tidak sehat bagi tubuh.
“Panas tidak hanya membuat kulit gosong, tapi juga mata sakit dan kepala pusing. Ini bisa berdampak buruk jika terus berlangsung,” ujarnya.
Penjelasan Prakirawan Cuaca BMKG
Shanas Prayuda, prakirawan cuaca dari BMKG Kelas I Juanda, menjelaskan bahwa kenaikan suhu di Surabaya disebabkan oleh posisi matahari yang berada tepat di garis ekuator. Hal ini menyebabkan sinar matahari datang secara tegak lurus ke permukaan bumi.
“Tidak adanya hambatan dari awan juga memperparah kondisi panas. Ini membuat sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa hambatan,” jelas Shanas.
Ia menambahkan bahwa Surabaya termasuk salah satu kota terpanas di Jawa Timur dengan suhu maksimum mencapai 36 derajat Celsius. Beberapa wilayah lain seperti Kediri, Sidoarjo, dan Bojonegoro juga memiliki suhu yang relatif tinggi.
