Cuaca Panas di Surabaya dan Sidoarjo Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Emosional
Cuaca panas yang terjadi belakangan ini, khususnya di wilayah Surabaya dan Sidoarjo, menimbulkan berbagai dampak terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Jawa Timur akan berawan pada hari Kamis (16/10/2025). Suhu udara di provinsi ini bervariasi antara 17 hingga 36 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan mencapai 97 persen di beberapa daerah.
Wilayah yang mengalami suhu tertinggi adalah Mojokerto, Surabaya, dan Sidoarjo, dengan suhu mencapai 36°C. Meskipun suhu tinggi, tingkat kelembapan relatif rendah, berkisar antara 38 hingga 70 persen. Prakirawan cuaca BMKG Kelas I Juanda, Shanas Prayuda menjelaskan bahwa kenaikan suhu ini disebabkan oleh posisi matahari yang tepat di garis ekuator. Akibatnya, sinar matahari datang secara tegak lurus terhadap permukaan bumi.
Kondisi ini diprediksi akan berlangsung hingga awal Oktober sebagai masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. Dampak cuaca panas tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga memengaruhi emosi dan psikologis masyarakat.
Pengaruh Cuaca Panas terhadap Emosi dan Agresivitas
Menurut Marini, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM), cuaca panas dapat meningkatkan tingkat agresivitas dan emosi negatif. Banyak penelitian menunjukkan bahwa ketika suhu udara meningkat, tingkat agresivitas manusia ikut naik. Pada kondisi seperti ini, seseorang mudah mengalami tekanan emosional, bahkan hal-hal kecil di tempat kerja bisa menjadi perdebatan.
Di jalan raya, orang cenderung lebih cepat membunyikan klakson, sedangkan di tempat kerja suasana bisa memanas meski tidak ada masalah besar. Hal ini disebabkan oleh energi tubuh yang terbagi dua, yaitu untuk berpikir dan bertahan menghadapi suhu tinggi. Akibatnya, kesabaran menipis, toleransi berkurang, dan produktivitas menurun.
Otak bekerja lebih lambat karena fokusnya terbagi antara mengatur suhu tubuh dan mengolah emosi. Oleh karena itu, banyak orang merasa “tidak seperti dirinya sendiri” pada hari-hari yang sangat panas.
Gangguan Tidur Akibat Cuaca Panas
Selain memengaruhi emosi, cuaca panas juga berdampak pada kualitas tidur malam. Tidur yang seharusnya menjadi waktu pemulihan menjadi tidak nyaman karena tubuh berkeringat dan otak tetap aktif. Tidur yang dangkal membuat seseorang lebih mudah marah, cemas, dan kehilangan motivasi keesokan harinya.
Untuk mengatasi tekanan lingkungan, Marini menyarankan masyarakat lebih melatih kesadaran diri. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak istirahat
- Membatasi paparan panas
- Menjaga pola makan
- Lebih sering diam dan mengambil napas dalam
Ia menegaskan bahwa diam sebentar di bawah kipas sambil menarik napas panjang bisa lebih menyembuhkan daripada terus berlari di tengah panas dunia yang riuh. Langkah ini sangat penting bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan suhu tinggi seperti Surabaya dan Sidoarjo.
Pentingnya Menciptakan Kesejukan di Tengah Cuaca Panas
Kota-kota yang panas bisa membuat warga menjadi tegang. Tugas masyarakat bukan hanya mencari ruang ber-AC, tetapi juga menciptakan kesejukan lewat empati, sapaan lembut, dan kesabaran kecil yang kita tabur di tengah gerahnya hari. Dengan begitu, kondisi cuaca panas tidak akan terasa terlalu mengganggu kesejahteraan masyarakat.
