Daerah  

COBA Jelaskan Substansi Teori Subkultur Cohen Dan Bagaimana Kritik Matza Dan Sykes Terhadap Teori



Portal Kudus

– Berikut ini adalah informasi pembahasan jawaban: Coba Anda jelaskan substansi Teori Subkultur Cohen dan bagaimana kritik Matza dan Sykes terhadap Teori Subkultur Cohen.

Jawaban soal coba Anda jelaskan substansi Teori Subkultur Cohen dan bagaimana kritik Matza dan Sykes terhadap Teori Subkultur Cohen itu.

coba Anda jelaskan substansi Teori Subkultur Cohen dan bagaimana kritik Matza dan Sykes terhadap Teori Subkultur Cohen itu.

Coba Anda jelaskan substansi Teori Subkultur Cohen dan bagaimana kritik Matza dan Sykes terhadap Teori Subkultur Cohen itu, silahkan simak di bawah ini.


Pertanyaan:

Salah satu asumsi ivan Nye terkait teori Kontrol Sosial, yaitu di dalamnya harus ada kontrol internal dan kontrol eksternal.

Konsep Kontrol Eksternal menjadi dominan ketika Matza dan Sykes mengkritik Teori Sub-Budaya Cohen.

a. Coba Anda jelaskan substansi Teori Subkultur Cohen dan bagaimana kritik Matza dan Sykes terhadap Teori Subkultur Cohen itu?

b. Sejalan dengan kritik mereka atas Teori Subkultur, mereka menggagas sebuah teori, yaitu Teknik-Teknik Netralisasi (Techniques of Neutralization). Teori tersebut memberikan kesempatan kepada seseorang untuk melakukan pelanggaran. Coba Anda jelaskan mengenai teori tersebut.

c. Beri SATU contoh kasus terkait teknik netralisasi (technique of neutralization), lalu analisislah kasus tersebut merujuk pada teknik netralisasi.

Referensi Jawaban:

a. Substansi Teori Subkultur Cohen dan Kritik Matza & Sykes

Teori Subkultur Cohen

Albert K. Cohen mengembangkan teori subkultur sebagai respons terhadap keterbatasan teori-teori sebelumnya yang hanya menyoroti motif ekonomi dalam perilaku menyimpang remaja.

Cohen berpendapat bahwa perilaku menyimpang remaja, khususnya dari kelas pekerja, tidak semata-mata didorong oleh kebutuhan ekonomi, melainkan juga oleh “status frustration” atau frustrasi status.

Frustrasi ini muncul karena remaja kelas bawah berusaha menyesuaikan diri dengan nilai-nilai kelas menengah yang dominan di masyarakat, namun sering gagal mencapainya akibat keterbatasan sosial dan ekonomi.

Akibat frustrasi tersebut, remaja kelas bawah membentuk subkultur atau kelompok alternatif yang memiliki seperangkat nilai dan norma sendiri, yang berbeda bahkan bertentangan dengan norma masyarakat arus utama.

Dalam subkultur ini, perilaku yang dianggap menyimpang oleh masyarakat justru menjadi sumber status dan penghargaan bagi anggotanya.

Ciri khas perilaku subkultur ini adalah malicious (tanpa motif ekonomi yang jelas, cenderung merusak), negativistic (bertentangan dengan norma dominan), dan non-utilitarian (tidak memiliki fungsi ekonomi, lebih sebagai ekspresi rasa frustrasi).

Kritik Matza dan Sykes terhadap Teori Subkultur Cohen

Matza dan Sykes mengkritik teori Cohen karena terlalu menekankan pada perbedaan nilai antara subkultur menyimpang dan masyarakat umum.

Menurut mereka, Cohen berpendapat bahwa anggota subkultur benar-benar menolak norma-norma masyarakat arus utama dan menggantinya dengan norma-norma baru yang sepenuhnya berbeda.

Padahal, menurut Matza dan Sykes, para pelaku penyimpangan sebenarnya masih menginternalisasi nilai-nilai umum masyarakat, hanya saja mereka mencari pembenaran atau rasionalisasi saat melanggar norma tersebut.

Matza dan Sykes berpendapat bahwa perilaku menyimpang bukanlah hasil dari penolakan total terhadap norma, melainkan merupakan hasil dari fleksibilitas sistem nilai yang memungkinkan individu untuk “menangguhkan” norma tertentu melalui proses rasionalisasi.

Dengan kata lain, pelaku penyimpangan tidak sepenuhnya menolak norma, tetapi menggunakan teknik tertentu untuk menetralkan rasa bersalah atau malu sebelum atau sesudah melakukan pelanggaran.

b. Teori Techniques of Neutralization

Konsep Teknik-Teknik Netralisasi

Teori Techniques of Neutralization yang dikembangkan oleh Sykes dan Matza menjelaskan bahwa individu yang melakukan perilaku menyimpang sebenarnya masih mengakui dan menginternalisasi norma-norma sosial yang berlaku.

Namun, mereka menggunakan berbagai teknik rasionalisasi untuk membenarkan atau menetralkan tindakan menyimpang yang mereka lakukan, sehingga mereka dapat melanggar norma tanpa merasa bersalah atau malu.

Teknik netralisasi ini merupakan mekanisme psikologis yang memungkinkan pelaku untuk “mematikan” protes batin atau suara hati yang biasanya mencegah mereka berbuat salah.

Proses justifikasi ini sering kali terjadi sebelum pelanggaran dilakukan, sehingga pelaku merasa tindakannya dapat diterima dalam situasi tertentu.

Five Neutralization Techniques according to Sykes and Matza:

1. Penyangkalan Tanggung Jawab (Denial of Responsibility):

Pelaku merasa dirinya hanya korban keadaan dan bukan pihak yang bertanggung jawab atas perbuatannya.

2. Penyangkalan Kerugian (Denial of Injury):

Pelaku menganggap tindakannya tidak menimbulkan kerugian atau luka bagi siapa pun.

3. Penyangkalan Korban:

Pelaku menganggap bahwa korban memang pantas menerima perlakuan tersebut.

4. Mengutuk Para Pengutuk (Menyalahkan Pihak yang Menghukum):

Pelaku menyalahkan pihak yang menghakimi atau menghukum, dengan menganggap mereka juga tidak lebih baik.

5. Menyerukan Loyalitas yang Lebih Tinggi (Appeal to Higher Loyalties):

Pelaku membenarkan tindakannya karena merasa terikat pada kelompok atau nilai lain yang dianggap lebih penting daripada norma umum.

Teknik-teknik ini tidak membentuk teori kejahatan yang berdiri sendiri, melainkan menjelaskan bagaimana pelaku merasionalisasi perbuatannya agar dapat diterima secara pribadi maupun sosial.

c. Studi Kasus dan Analisis Berdasarkan Teknik-Teknik Netralisasi

Contoh Kasus: Pencurian Ringan oleh Remaja

Seorang remaja dari keluarga kurang mampu mencuri camilan di minimarket. Ketika ditanya alasannya, ia berkata, “Saya hanya mengambil sedikit, toh pemilik toko itu kaya dan barangnya banyak. Tidak akan rugi kalau hanya kehilangan satu-dua bungkus makanan.”

Analisis Kasus dengan Teknik Netralisasi

Dalam kasus di atas, remaja tersebut menggunakan teknik Denial of Injury (penyangkalan kerugian).

Ia merasionalisasi tindakannya dengan meyakini bahwa tindakannya tidak menimbulkan kerugian berarti bagi pemilik toko.

Dengan demikian, ia merasa tidak bersalah dan dapat mengurangi rasa malu atau penyesalan atas perbuatannya.

Selain itu, unsur Denial of Responsibility juga dapat ditemukan jika remaja tersebut menambahkan alasan seperti “Saya terpaksa melakukan ini karena tidak punya uang dan orang tua saya tidak mampu membelikan.”

Dalam hal ini, ia memosisikan dirinya sebagai korban keadaan, bukan sebagai pelaku utama yang harus bertanggung jawab.

Teknik netralisasi ini memungkinkan remaja tersebut untuk tetap mengakui norma kejujuran dan larangan mencuri, namun dalam situasi tertentu ia merasa tindakannya dapat dibenarkan.

Proses ini menunjukkan bahwa penyimpangan tidak selalu berarti penolakan total terhadap norma, melainkan adanya fleksibilitas dalam penerapan norma melalui rasionalisasi.

Kesimpulannya, teori subkultur Cohen menekankan pentingnya kelompok dan nilai alternatif dalam menjelaskan kenakalan remaja, namun dikritik oleh Matza dan Sykes karena mengabaikan internalisasi norma umum oleh pelaku penyimpangan.

Sebagai respons, Matza dan Sykes mengembangkan teori techniques of neutralization yang menyoroti proses rasionalisasi dan pembenaran yang dilakukan pelaku sebelum atau sesudah melakukan pelanggaran, sehingga mereka dapat melanggar norma tanpa kehilangan identitas sebagai anggota masyarakat yang taat norma.

Contoh kasus pencurian ringan oleh remaja menunjukkan bagaimana teknik netralisasi bekerja dalam praktik, yaitu dengan menetralkan rasa bersalah melalui penyangkalan terhadap kerugian atau tanggung jawab.

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *