Laporan Wartawan WARTAKOTALIVE.COM, ARIE PUJI WALUYO
mediaawas.com, DEPOK
– Yati Surachman dianggap sebagai aktris legenda di industri perfilman Indonesia.
Sejak memulai karier pada tahun 1972, Yati Surachman telah membintangi puluhan hingga ratusan judul film dan sinetron di Indonesia.
Namun, Yati tidak ingin hanya dikenal sebagai legenda di dunia akting saja, melainkan mengabaikan pengalamannya dengan menerima upah yang tidak sepadan.
“Legenda itu kan sebutan. Jangan sebut saya legenda kalau masih kasih honor saya setara ekstrakurikuler,” kata Yati Surachman ketika ditemui di kawasan Depok, Jawa Barat, belum lama ini.
Yati menyebut selama beberapa tahun terakhir, ia banyak menolak tawaran film yang memberikan dirinya honor yang kecil.
Tujuannya agar rumah produksi menghargai perjalanannya dalam karier.
“Ada beberapa tawaran yang saya tolak karena honor tidak sesuai. Karena kasihan pengalaman hidup saya di film sudah 50 tahun,” ucap wanita berusia 67 tahun tersebut.
Semua pengalaman kariernya di dunia akting ia dapatkan bukan karena candaan, melainkan dedikasinya terhadap panggung hiburan Indonesia.
“Honor itu harus sesuai kalau dibilang legenda. Hargailah pengalaman saya,” tegasnya.
Di sisi lain, Yati Surachmiati Agustina mengklaim masih laris di dunia akting sampai detik ini karena komitmennya terhadap pekerjaan dan jarang mengeluh.
“Saya selama ini tidak pernah mengeluh sih. Karena saya napas aja gratis, masih bisa bekerja pun harus tetap disyukuri,” jelasnya.
“Saya selalu berdoa sama Tuhan kalau dapet karakter, Tuhan lancarkanlah dan sesuaikan peraturannya,” tambahnya.
Menurut Yati, dirinya masih semangat untuk bekerja walaupun usianya sudah renta dan tak muda lagi. Alasannya karena ia ingin fokus dalam bekerja.
“Being tired from sleeping is also tiring. So for me, don’t complain, remember money isn’t taken to the grave. There’s a role to play,” he revealed.
“Saya juga tidak pernah merasa tua, selalu muda terbawa sama lawan main,” tambahnya.
Karena sudah tidak muda lagi, Yati Surachman harus tetap menjaga kondisi tubuh agar tidak sakit-sakitan. Sehingga ia kerap didampingi anak saat bekerja di Indonesia.
“Terakhir sih darah tinggi, diminta dokter buat kurangi garam. Makanan gak ada pantangan, kalau laper ya tinggal makan aja,” kata Yati Surachman. (Ari).
