Menkeu AS: Iran Punya 3 Opsi, Pilih Bentrokan Internal, Hadapi Rakyat atau Kembali Berunding
Amerika Serikat (AS) memperluas tekanan terhadap Iran melalui jalur ekonomi dan diplomasi, bersamaan dengan meningkatnya kembali konfrontasi militer kedua negara.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyebut Iran berada dalam kondisi โpanikโ akibat tekanan ekonomi dan militer yang dihadapi Teheran.
Menurutnya, Iran kini memiliki tiga pilihan: konflik internal di antara kelompok elite dan Garda Revolusi, menghadapi perlawanan dari rakyat, atau kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan yang dapat dipatuhi.
Pernyataan Bessent disampaikan di sela-sela KTT Pemimpin Keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Menurut Bessent, tindakan militer Iran dalam eskalasi terbaru tidak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi yang semakin berat. Washington, kata dia, justru akan melanjutkan kebijakan tersebut untuk mendorong Teheran mengubah kebijakannya.
Strategi Amerika Serikat kini tampak menggabungkan tekanan militer, sanksi finansial, serta diplomasi dengan negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap Iran.
Bank Iran Jadi Sasaran Berikutnya
Bessent mengatakan Departemen Keuangan AS diperkirakan mengumumkan sanksi terhadap satu bank Iran pada pekan ini dan menyasar bank lain pada pekan berikutnya.
Washington juga mempertimbangkan sanksi terhadap perusahaan penyewaan pesawat dan sejumlah entitas lain yang memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran.
Menurut Bessent, pemerintah AS sedang melacak aset-aset yang dikaitkan dengan Garda Revolusi, termasuk rekening dan properti di berbagai negara.
Ia mengatakan Washington mengetahui keberadaan sejumlah rekening yang terkait dengan Garda Revolusi di Kepulauan Virgin Britania Raya.
Amerika Serikat juga mengidentifikasi properti yang disebut bernilai sekitar US$100 juta dan berencana mengambil langkah untuk membekukan aset tersebut.
Langkah itu merupakan bagian dari upaya mempersempit akses Iran terhadap sistem keuangan internasional.
Bessent sebelumnya mengatakan Departemen Keuangan AS kemungkinan memberlakukan sanksi sekunder terhadap Iran secara berkala, dengan sektor perbankan menjadi sasaran awal.
Sanksi sekunder dapat memberikan tekanan bukan hanya kepada entitas Iran, tetapi juga pihak ketiga yang tetap melakukan transaksi tertentu dengan Teheran.
AS Mau Putus Ruang Gerak Ekonomi Iran
Tekanan terhadap sektor perbankan memiliki arti strategis karena akses terhadap sistem keuangan global menjadi salah satu titik rentan ekonomi Iran.
Washington berupaya membuat biaya ekonomi bagi Teheran semakin tinggi, sekaligus membatasi kemampuan kelompok-kelompok yang dianggap terkait dengan Garda Revolusi untuk mengakses aset dan jaringan keuangan internasional.
Kebijakan tersebut berjalan bersamaan dengan operasi militer Amerika Serikat terhadap sejumlah sasaran di Iran.
Teheran merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap lokasi serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Dengan demikian, konflik tidak hanya berlangsung melalui serangan militer. Sistem keuangan juga menjadi medan konfrontasi, dengan Washington berupaya menggunakan dominasi dolar dan jaringan perbankan internasional sebagai instrumen tekanan.
AS Bicara dengan China dan Rusia
Di jalur diplomatik, Bessent mengatakan Amerika Serikat telah melakukan pembicaraan dengan China mengenai dua persoalan utama: mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa pembicaraan tersebut bukan merupakan kesepakatan khusus dengan Beijing, melainkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga selat tetap terbuka bagi pelayaran.
Washington juga disebut melakukan pembicaraan secara tertutup dengan Rusia dan China mengenai Iran.
Keterlibatan kedua negara tersebut penting karena China dan Rusia memiliki hubungan politik, ekonomi, dan pertahanan yang lebih dekat dengan Teheran dibandingkan banyak negara Barat.
Bagi Washington, dukungan atau setidaknya kepatuhan Beijing dan Moskow terhadap langkah-langkah tertentu dapat mempersempit ruang gerak Iran.
Sebaliknya, bagi Iran, hubungan dengan kedua kekuatan tersebut menjadi salah satu saluran untuk mengurangi dampak tekanan Barat.
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
Persoalan lain yang menjadi perhatian Bessent adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu rute penting perdagangan energi dunia.
Bessent menolak klaim Iran bahwa Teheran mengendalikan selat tersebut. Ia bahkan mengatakan Amerika Serikat yang mengendalikan jalur tersebut.
Ia juga membantah laporan mengenai keberadaan ranjau maupun tabrakan dua kapal di kawasan tersebut dan menyebut narasi mengenai hal itu sebagai โpropaganda Iranโ.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz kini bukan hanya menjadi persoalan navigasi dan perdagangan, tetapi juga bagian dari perang informasi antara Washington dan Teheran.
Setiap gangguan terhadap pelayaran di selat tersebut berpotensi berdampak terhadap pasokan energi dan biaya transportasi global.
Karena itu, ancaman terhadap kebebasan navigasi menjadi salah satu isu paling sensitif dalam eskalasi saat ini.
Tiga Pilihan Iran
Di tengah tekanan tersebut, Bessent menggambarkan Iran berada dalam posisi yang semakin sulit.
Pilihan pertama adalah meningkatnya konflik internal, termasuk potensi benturan di antara kelompok-kelompok yang menopang kekuasaan Iran.
Pilihan kedua adalah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah. Pilihan ketiga adalah kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan baru.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan tujuan utama strategi Washington: menggunakan tekanan ekonomi dan militer untuk memaksa Teheran kembali bernegosiasi dari posisi yang lebih lemah.
Namun, pilihan tersebut tidak otomatis berarti Iran akan segera menyerah.
Teheran masih memiliki kemampuan rudal dan drone, jaringan mitra serta kelompok bersenjata di kawasan, dan hubungan strategis dengan China maupun Rusia.
Karena itu, eskalasi tekanan justru membawa risiko lain.
Semakin berat tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran, semakin besar pula kemungkinan Teheran menggunakan instrumen yang masih dimilikinya untuk melakukan pembalasan.
Situasi tersebut membuat konflik Iran-AS memasuki fase yang kompleks: Washington berusaha menekan ekonomi Iran hingga memaksa kompromi, sementara Teheran menghadapi pilihan antara mempertahankan konfrontasi, mencari jalan diplomatik, atau mengambil risiko eskalasi yang lebih besar.
