Pemain Naturalisasi Malaysia yang Terlibat dalam Skandal Dokumen Palsu
Hector Hevel, seorang pemain sepak bola asal Belanda yang dinaturalisasi menjadi warga negara Malaysia, menjadi salah satu dari tujuh pemain yang terlibat dalam skandal dokumen palsu yang dilakukan oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Ia dikenal sebagai senior dari Rafael Struick, seorang pemain muda yang juga berkebangsaan Belanda.
Hevel resmi menjadi warga negara Malaysia pada awal tahun 2025 dan mendapatkan paspor Negeri Jiran pada bulan Maret. Setelah itu, klub Portimonense, yang sebelumnya ia bela, mengumumkan bahwa ia dipanggil untuk membela Timnas Malaysia. Dalam waktu singkat, Hevel telah mencatatkan dua caps bersama Harimau Malaya dan mencetak satu gol. Namun, keberhasilannya tidak bertahan lama karena masalah hukum yang muncul.
FIFA menemukan bukti bahwa FAM telah memalsukan dokumen pemain naturalisasi, termasuk Hector Hevel. Akibatnya, FIFA memberikan sanksi berupa denda dan larangan beraktivitas sepak bola selama setahun kepada Hevel. Malaysia tidak langsung menerima sanksi tersebut dan mengajukan banding, tetapi permohonan mereka ditolak oleh FIFA.
Bahkan, FIFA mengungkapkan bukti-bukti yang lebih mengejutkan terkait proses naturalisasi para pemain. Salah satu poin yang paling menonjol adalah pengakuan Hevel bahwa kakeknya adalah orang Malaysia. Namun, ia juga mengaku melakukan pengakuan palsu dengan menyatakan bahwa ia tinggal di Malaysia selama 10 tahun. Pengakuan ini didasarkan pada dokumen yang ia tandatangani tanpa membaca isinya.
Dalam konfrontasi dengan FIFA, Hevel mengakui bahwa ia hanya menandatangani dokumen yang diberikan padanya tanpa mengetahui isi yang sebenarnya. Fakta ini seperti drama komedi yang dipertontonkan Malaysia kepada para penggemar sepak bola di Negeri Jiran. Sayangnya, Hevel, yang memiliki riwayat bermain cukup bagus, harus terlibat dalam persengkongkolan ini.
Sebelum menjadi pemain Malaysia, Hevel pernah bermain untuk Timnas U-20 Belanda. Ia merupakan jebolan klub ADO Den Haag dan masuk ke akademi klub tersebut pada musim 2004/2005. Kemudian, ia bergabung dengan skuad utama pada musim 2014/2015. Karier Hevel mengalami naik-turun, termasuk pernah bermain di Liga Spanyol untuk FC Andorra dan FC Cartagena sebelum hijrah ke Portugal dan bergabung dengan Portimonense.
Setelah berkarier di Eropa, Hevel melanjutkan kariernya di Asia Tenggara dan kini berstatus sebagai pemain Johor Darul Takzim (JDT), sebuah klub yang dimiliki oleh putra Sultan, Tunku Ismail Idris. Bersama JDT, ia telah tampil delapan kali dalam berbagai kompetisi, termasuk sekali di Liga Champions Asia Elite. Meski belum mencetak gol, Hevel berhasil mencatatkan tiga assist.
Namun, nasibnya berubah setelah FIFA memberikan sanksi selama satu tahun. Jika tidak segera mengakui kesalahan, karier Hevel kemungkinan besar akan berakhir. Untuk menyelamatkan situasi, FAM berusaha membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga (CAS) agar bisa mendapatkan keputusan yang lebih baik.
