Kekacauan dalam Kongres PSSI Sulbar, Peserta Mengeluhkan Proses yang Tidak Transparan
Selama berlangsungnya kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Sulbar di Pasangkayu, beberapa peserta mengeluhkan adanya ketidakjelasan dan kejanggalan dalam proses penyelenggaraan. Anggota Askab PSSI Mamuju, Chairul, menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan para peserta kongres.
Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah penyampaian Statuta 2025 oleh Sekretaris Umum (Sekum) PSSI Sulbar, Jupri. Statuta tersebut disampaikan setelah kongres berlangsung, bukan sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari peserta kongres, mengapa statuta baru hanya diberikan pada saat forum sedang berlangsung.
Chairul menjelaskan bahwa pengurus PSSI Sulbar seharusnya telah menyampaikan statuta baru kepada masing-masing Ketua Askab sebelum kongres dimulai. Menurutnya, selama ini, para Ketua Askab menggunakan statuta lama sebagai pedoman. Oleh karena itu, penyampaian statuta baru yang terlambat dinilai tidak sesuai dengan prosedur yang seharusnya.
Selain itu, terjadi perdebatan terkait pemilihan Komite Pemilihan (KP). Sekum PSSI Sulbar sudah menetapkan tiga nama untuk komite tersebut, namun peserta kongres tidak menerima dan meminta agar tiga nama baru diajukan. Alhasil, tiga nama yang baru akhirnya disepakati oleh peserta kongres.
Namun, masalah kembali muncul saat Komite Banding Pemilihan (BP) tidak diusulkan oleh Sekum PSSI Sulbar. Justru, tiga nama calon anggota BP langsung ditetapkan tanpa melibatkan peserta kongres. Hal ini membuat peserta kongres merasa tidak puas dan memandang proses pemilihan tersebut tidak transparan.
Chairul juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai siapa yang berhak menjadi voters dalam pemilihan ketua PSSI Sulbar. Sekum PSSI Sulbar menyatakan bahwa semua peserta yang ikut Piala Suratin memiliki hak untuk memilih. Namun, pernyataan ini bertentangan dengan pernyataan Ketua PSSI Sulbar yang menyatakan bahwa peserta Piala Suratin tidak boleh dilibatkan sebagai voters.
Menurut Chairul, hal ini menjadi pertanyaan besar. Ia berpendapat bahwa semua peserta yang mengikuti Piala Suratin seharusnya dianggap sebagai peserta penuh dalam pemilihan ketua PSSI Sulbar. Oleh karena itu, peserta kongres meminta agar pemilahan selanjutnya dilakukan di tempat netral untuk menghindari intervensi.
Chairul menegaskan bahwa peserta kongres meminta PSSI Pusat segera menangani kejanggalan dan ketidakadilan yang terjadi selama kongres. Mereka berharap proses pemilihan ketua PSSI Sulbar dapat berjalan secara lebih transparan dan adil di masa depan.
