Perselisihan Internal PBNU: Hubungan Gus Yahya dan Gus Ipul yang Tidak Jelas
Di tengah isu pemakzulan yang sedang marak di kalangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), publik kembali memperhatikan perbedaan hubungan antara Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf dengan Sekretaris Jenderal, Saifullah Yusuf. Kedua tokoh ini sering disebut sebagai pihak-pihak utama dalam dinamika internal organisasi.
Gus Yahya, sapaan akrab dari KH Yahya Cholil Staquf, mengakui bahwa ia sudah lama tidak berkomunikasi dengan Saifullah Yusuf. Komunikasi tersebut tidak hanya terbatas pada pertemuan langsung, tetapi juga melalui telepon. Ia berpikir bahwa Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, sibuk dengan tugasnya sebagai Menteri Sosial RI, sehingga tidak sempat menghubungi dirinya. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa hubungan antara dirinya dan Gus Ipul masih baik-baik saja.
“Sebetulnya baik-baik saja, mungkin ya perasaan saya, sih, tetapi dia mungkin terlalu sibuk (sehingga) nggak pernah menghubungi saya,” ujarnya setelah menghadiri rapat koordinasi PWNU se-Indonesia di Surabaya, Minggu (23/11).
Saat ditanya kapan terakhir kali berkomunikasi dengan Gus Ipul, Gus Yahya mengaku tidak ingat secara pasti. “Wah, sudah lama sekali,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya juga menyampaikan hasil rapat koordinasi PWNU se-Indonesia. Perwakilan PWNU yang hadir dalam acara tersebut menyatakan ketidaksetujuan terhadap rencana mundurnya dirinya dari jabatan Ketua Umum PBNU. Mereka khawatir jika ia mundur, maka akan ada kekecewaan di kalangan anggota.
“Pertama-tama mereka mengatakan tidak mau saya mundur. Mereka khawatir saya mundur. Karena mereka dulu memilih saya, mereka akan kecewa kalau saya mundur. Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur,” ujarnya.
Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021 – 2025 dalam Muktamar NU ke-34. Artinya, ia masih memiliki waktu sekitar satu tahun lagi untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ia menegaskan bahwa ia akan menjalani amanat tersebut selama lima tahun sesuai keputusan Muktamar.
“Karena saya mendapatkan amanat dari Muktamar 34 yang lalu untuk 5 tahun. Akan saya jalani selama 5 tahun. Insyaallah saya sanggup. Saya tidak terbersit pikiran untuk mundur,” tutupnya.
Isu pemakzulan Gus Yahya mulai muncul setelah adanya Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang berlangsung di Hotel Aston City, Jakarta pada Kamis (19/11). Dalam rapat tersebut, 37 dari 53 Pengurus Harian Syuriyah PBNU hadir dan menyimpulkan bahwa Gus Yahya harus mundur atau diberhentikan. Salinan risalah tersebut tersebar luas di media sosial.
Risalah yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mencantumkan lima poin penting. Pada poin terakhir, ditegaskan bahwa Gus Yahya wajib mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU dalam waktu tiga hari. Jika tidak, Rapat Harian Syuriyah PBNU akan memutuskan untuk memberhentikannya.
