Daerah  

Efek Cuaca Panas Ekstrem di Majalengka hingga Akhir 2025


Warga Majalengka Mengeluhkan Cuaca Panas Ekstrem

Warga di wilayah Majalengka kini sedang menghadapi cuaca panas yang terasa sangat ekstrem. Fenomena ini telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir, dengan suhu siang hari yang terasa sangat menyengat. Beberapa warga bahkan menyebut bahwa mereka belum pernah merasakan panas seperti ini sebelumnya.

M. Ibin Nugraha, seorang warga dari Perum BCA, Kecamatan Sukahaji, mengatakan bahwa ia sudah tinggal di Majalengka puluhan tahun, tetapi baru kali ini mengalami cuaca sepanas ini, terutama di daerah Cigasong. Ia menegaskan bahwa kondisi ini sangat tidak biasa dan membuat masyarakat merasa khawatir.

Ibrahim Thalib, warga dari Majalengka Kulon, juga menyampaikan keluhan serupa. Menurutnya, hawa panas sudah dirasakan sejak lebih dari satu bulan terakhir. “Saya merasa seperti berada di dalam oven saat siang hari,” katanya.

BMKG Kertajati mencatat bahwa suhu maksimum di wilayah ini mencapai 37,6 derajat Celsius. Mereka memperkirakan bahwa kondisi panas ekstrem ini akan terus berlangsung hingga akhir Oktober 2025.

Prakirawan BMKG Kertajati, Dyan Anggrainy, menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara ini disebabkan oleh posisi Matahari yang kini berada tepat di atas wilayah Jawa. Hal ini memicu radiasi matahari yang lebih kuat, sehingga suhu terasa lebih panas dibanding biasanya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung terlalu lama, serta meningkatkan konsumsi air putih. Dyan menekankan bahwa kondisi panas ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dipicu oleh pergeseran semu Matahari ke selatan Indonesia dan minimnya tutupan awan hujan. Saat ini, Indonesia masih dalam masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Minimnya awan membuat sinar matahari langsung menembus tanpa hambatan, sehingga suhu terasa lebih panas.

Menurut Dwikorita, radiasi Matahari meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kondisi ini bersifat sementara dan diperkirakan akan berakhir pada akhir Oktober hingga awal November 2025, seiring masuknya musim hujan.

BMKG juga memantau potensi fenomena La Niña lemah yang akan meningkatkan curah hujan di Indonesia mulai November hingga Januari 2026. Fenomena ini dapat memicu peningkatan curah hujan di wilayah dengan suhu laut hangat, terutama di bagian barat dan tengah Indonesia.

Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memakai pelindung kepala, dan banyak minum air putih agar terhindar dari dehidrasi. Fenomena suhu ekstrem ini juga menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia yang rawan terhadap variasi cuaca ekstrem.

Di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan), suhu udara dalam beberapa hari terakhir mencapai level tinggi. BMKG Kertajati mencatat suhu maksimum mencapai 37,6 derajat Celsius, dan kondisi panas ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025.

Dyan Anggrainy menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara ini dipicu oleh pergerakan posisi Matahari yang kini berada tepat di atas wilayah Jawa. Selain faktor astronomis, minimnya tutupan awan juga memperkuat efek panas terik di siang hari.

Wilayah Ciayumajakuning saat ini memasuki masa pancaroba, yaitu peralihan dari kemarau ke musim hujan. Pada masa ini, biasanya siang terasa sangat panas namun potensi hujan muncul pada sore hingga malam hari.

BMKG mencatat, suhu udara tertinggi di Ciayumajakuning pada 14 Oktober 2025 mencapai:
* 37,6°C di Jatiwangi (Majalengka)
* 35,2°C di Penggung (Cirebon)
* 35,2°C di Kertajati (Majalengka)

Menurut catatan historis BMKG, suhu udara di wilayah ini bahkan pernah menyentuh 40°C pada 12 Oktober 2002, saat terjadi fenomena El Nino. Tahun ini belum menunjukkan indikasi suhu ekstrem hingga 40°C. Namun potensi suhu di atas 37°C masih mungkin terjadi hingga akhir Oktober.

Pantauan BMKG pada Kamis (16/10) pukul 12.00 WIB menunjukkan suhu udara di Kecamatan Majalengka, Majalengka sudah mencapai 34°C, dengan suhu terasa mencapai 38°C. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh, menghindari paparan sinar matahari langsung terlalu lama, dan memperbanyak konsumsi air putih.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *