Prakiraan Cuaca NTT untuk Minggu Kedepan
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang memberikan prakiraan cuaca untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Jumat, 16 Oktober 2025. Berdasarkan data yang dikeluarkan, sebagian besar wilayah NTT diprediksi memiliki cuaca cerah berawan. Namun, beberapa daerah khususnya di Pulau Flores memiliki potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.
Wilayah yang Berpotensi Hujan Intensitas Sedang Hingga Lebat
Beberapa wilayah yang perlu diwaspadai karena kemungkinan terjadi hujan sedang hingga lebat adalah Ende dan Borong, terutama pada dini hari. Sementara itu, wilayah seperti Bajawa dan Ruteng akan mengalami hujan ringan siang hari serta hujan sedang pada malam hari.
BMKG El Tari Kupang juga menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah di Provinsi NTT berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang dalam periode 15 hingga 20 Oktober 2025. Dalam laporan prakiraan cuaca mingguan yang dirilis, BMKG menegaskan bahwa kondisi umum NTT masih berada pada musim kemarau. Suhu udara berkisar antara 15 hingga 34 derajat Celsius, sedangkan kelembapan udara mencapai 35 hingga 95 persen.
Pergerakan Angin dan Imbauan dari BMKG
Angin bertiup dari arah timur-selatan dengan kecepatan antara 5 hingga 30 kilometer per jam. BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memantau pembaruan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG El Tari Kupang. Selain itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi hujan ringan hingga sedang yang bisa disertai petir dan angin kencang.
Kondisi ini dapat berdampak pada genangan air, banjir lokal, atau bahkan tanah longsor, terutama di wilayah dengan kontur curam atau berbukit. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dan memperhatikan anjuran dari pihak berwenang.
Perkembangan Cuaca Nasional
Dalam jangka waktu satu minggu ke depan, sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Wilayah-wilayah yang rawan hujan antara lain Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua.
Menurut BMKG, kondisi ini dipengaruhi oleh interaksi antara fenomena atmosfer global, regional, dan faktor lokal yang meningkatkan labilitas atmosfer. Hal ini membuat kondisi udara lebih kondusif untuk pertumbuhan awan konvektif yang menjadi penyebab hujan. Masyarakat diharapkan tetap memperhatikan perkembangan cuaca dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
