Pemimpin Badan SAR Nasional Menjelaskan Kondisi Terkini
Kepala Badan SAR Nasional, Marsdya Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa tragedi yang terjadi mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Sebanyak 65 instansi berpartisipasi dalam operasi pencarian dan penyelamatan, termasuk tim SAR dari luar daerah seperti Jogjakarta dan Jawa Tengah. Syafii menekankan bahwa setiap nyawa sangat berharga, menjadi prinsip utama dalam proses pencarian.
Upaya untuk membuat gorong-gorong dilakukan dengan penuh kewaspadaan karena tidak tertutup kemungkinan adanya longsoran kecil. “Kita kejar golden time,” ujarnya.
Data Korban Masih Dinamis
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa data korban masih dinamis. Dari catatan yang ada, sebanyak 100 santri sudah dievakuasi sejak hari pertama, dengan 75 di antaranya mengalami luka ringan. “Pemerintah akan menanggung semua biaya sampai tuntas,” ujarnya.
Alasan Tidak Menggunakan Alat Berat
Mengenai alasan belum digunakannya alat berat, Emi menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh dampak yang bisa mengubah struktur reruntuhan. Hal tersebut membahayakan bagi santri yang terdeteksi masih hidup. Tim sedang berusaha membuat akses evakuasi dengan menciptakan kanal. Sebab, posisi para korban sama sekali tidak bisa bergerak. Masing-masing terhimpit reruntuhan.
Gempa di Sumenep pada Selasa (30/9) malam juga memengaruhi kondisi reruntuhan. Ketinggian akses sebelumnya 15 sentimeter, namun kini posisinya berubah menjadi tinggal 10 sentimeter.
Golden time menjadi acuan untuk bergerak cepat. Setelah itu, metode pencarian akan diubah, termasuk kemungkinan penggunaan alat berat. Yang pasti, pelaksanaan tetap akan dikonsolidasikan dengan pihak keluarga.
Ucapan Belasungkawa dari Presiden
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam dari Presiden Prabowo Subianto. “Beliau merasa prihatin, dan menitipkan doa kepada keluarga korban agar tabah,” paparnya.
