Partai Politik Jepang Berencana Menunjuk AI sebagai Pemimpin
Partai politik baru di Jepang, Path to Rebirth, mengumumkan rencana untuk menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai pemimpin partainya. Rencana ini diungkapkan pada pertengahan September 2025 lalu, setelah partai tersebut gagal meraih kursi dalam pemilu sebelumnya. Salah satu anggota partai, Koki Okumura, yang berusia 25 tahun dan merupakan spesialis riset AI, menyatakan niatnya untuk menyerahkan kepemimpinan partai kepada AI.
Okumura menjelaskan bahwa AI akan bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dalam partai, sementara dirinya akan berperan sebagai asisten. Ia juga mengungkapkan bahwa AI yang akan dipilih memiliki bentuk penguin, sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Jepang yang sangat menyukai hewan. Meski begitu, belum ada informasi pasti mengenai kapan AI tersebut akan mulai bekerja.
Alasan Penggunaan AI dalam Partai Politik
Alasan utama Okumura memilih AI sebagai pemimpin adalah karena ia percaya bahwa AI dapat membuat keputusan dengan presisi dan akurasi yang lebih tinggi dibanding manusia. Dengan menggunakan AI, partai berharap dapat memberikan ruang bagi suara-suara yang sering diabaikan. Hal ini juga diharapkan bisa menciptakan lingkungan partisipasi politik yang lebih inklusif dan manusiawi.
Namun, secara hukum, wakil partai harus berupa orang nyata. Oleh karena itu, Okumura tetap akan menjadi wakil partai secara formal. Meskipun demikian, ia tetap ingin AI menjadi pengambil keputusan utama dalam partai.
Latar Belakang Partai Path to Rebirth
Partai Path to Rebirth didirikan oleh Shinji Ishimaru, mantan wali kota Akitakata, yang sebelumnya menjabat posisi kedua dalam pemilihan gubernur Tokyo tahun 2024. Namun, Ishimaru mundur dari kepemimpinan partai setelah partai gagal meraih kursi dalam pemilu lokal maupun nasional. Partai ini mencalonkan lebih dari 50 kursi, tetapi kebanyakan kandidatnya kalah dalam pemilihan.
Teknologi AI di Jepang dan Tanggapan Pengamat
Pemerintah Jepang telah meningkatkan penggunaan AI dalam beberapa tahun terakhir, meski program politik seperti ini mungkin tidak termasuk dalam rencana mereka. Ahli ekonomi mengatakan bahwa peningkatan penggunaan AI bermanfaat untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Beberapa departemen pemerintah juga telah mengadopsi teknologi AI untuk membantu tugas administrasi dan lainnya.
Namun, para pengamat menyampaikan keraguan terhadap rencana Okumura. Hiroshi Shiratori, profesor ilmu politik dari Universitas Hosei di Tokyo, menyatakan bahwa pemilih Jepang belum siap untuk partai yang sangat bergantung pada AI. Menurutnya, pemilih cenderung memilih orang yang bisa diandalkan dan partai yang sejalan dengan perasaan rakyat. AI dinilai tidak relevan dalam hal ini.
Thomas Ferretti, dosen senior etika dan bisnis berkelanjutan di Universitas Greenwich, Inggris, mengatakan bahwa AI tidak bisa membuat keputusan politik sendiri dan berisiko menimbulkan masalah etika. Ia menyoroti bahwa nilai-nilai manusia berbeda-beda, sehingga sulit untuk sepakat tentang tujuan masyarakat.
Masa Depan Partai dan AI
Meski ada tantangan, Okumura tetap optimis bahwa rencananya akan membuka jalan baru dalam partisipasi politik. Ia berharap partai ini menjadi yang pertama melakukan eksperimen ini. Ia menegaskan bahwa dunia semakin dekat dengan interaksi dengan AI, dan partai ingin menjadi bagian dari perubahan ini.
Rencana ini masih dalam proses persiapan, termasuk pembentukan komite dan pengungkapan penampilan AI. Meski belum ada tanggal pasti, partai ini terus berupaya untuk mewujudkan inovasi yang unik dan berani dalam dunia politik.
