Saling Lempar Dan Bungkam, Ganti Rugi Rumpon Nelayan Pantura Terancam Menguap


Caption: ekploitasi aktivitas 3D seismik migas di perairan Pantura Sampang( dok: Sholeh/ awa.com).

Sampang – awas.com – Ketidak jelasan terkait ganti rugi rumpon nelayan Pantura dari Petronas Carigali dan PT Elnusa serta diamnya bupati Sampang diindikasikan adanya pengabaian tanggungjawab, ganti rugi kerusakan ribuan rumpon yang hancur akibat aktivitas 3D seismik migas terancam menguap, Rabu ( 13/08/2025 ).

Hal ini menurut salah satu nelayan asal desa Masaran kecamatan Banyuates, sikap bupati Sampang yang diam tidak mencerminkan kepribadian seorang pemimpin daerah, alih alih menjawab secara langsung, justru bupati diam seribu bahasa.

Ironisnya, Petronas sempat mengeluarkan pernyataan, jika segala bentuk tanggungjawab kerusakan rumpon, termasuk dana ganti rugi, untuk meminta keterangan pada bupati Sampang.

Namun apa yang terjadi, menurut Halil salah satu nelayan Pantura, sikap diamnya bupati sampang, menimbulkan multi tafsir, sebagian nelayan beranggapan, diamnya bupati Sampang , sebagai bentuk kehati hatian, agar tidak memicu polemik yang lebih besar, Namun ada juga sebagian nelayan yang beranggapan, bupati sengaja menghindar dari tanggung jawab menjelaskan nasib nelayan yang rumpunnya rusak akibat aktivitas 3D seismik migas.

Halil juga, mengaku berang pada sikap Petronas yang di dinilai tak tegas, ia meminta Petronas segera mengambil sikap dan kepastian terhadap ganti rugi rumpon nelayan.

” kalau memang dana ganti rugi itu ada, silahkan keluarkan dan komunikasi yang baik, jangan saling lempar tanggung jawab,” ucapnya berang.

Ia juga di buat makin kecewa manakala, dirinya mendengar bahwa Petronas Carigali menggelar sosialisasi Analisis mengenai Dampak Lingkungan, ( AMDAL) untuk rencana eksploitasi sumur hidayah. Sosialisasi yang berlangsung di sebuah Hotel Mewah di Surabaya pada Selasa kemaren, dinilai bentuk penghinaan serta menyakitkan masyarakat nelayan pantura.

” Kalau memang mengadakan sosialisasi sumur hidayah itu, seharusnya di lakukan di wilayah perairan Pantura Sampang, bukan di depan pintu hotel Surabaya,” ucapnya sinis.

Halil pun berucap tegas, jangan mimpi lagi melanjutkan ekploitasi di wilayah kami, jika ganti rugi rumpon nelayan Pantura belum beres, silahkan pergi dari wilayah kami.

” Petronas Carigali dan PT Elnusa jangan mimpi meneruskan eksplorasi sumur hidayah di wilayah kami, ini wilayah kami, kami akan lawan sampai titik darah penghabisan, jika memaksa dan kami jangan di bohongi lagi, ” tegasnya dengan nada penuh amarah.

Kehadiran Petronas Carigali dan PT Elnusa bagi masyarakat nelayan Pantura, kini membawa petaka dan kesengsaraan dalam keberlangsungan hidup, bukannya menambah suasana nyaman dan tentram harapan yang di damba, malah menambah masalah dan membikin masyarakat resah serta terganggu.

Sampai berita ini diturunkan, manager Petronas Carigali asal Malaysia, Erik yoga, saat di konfirmasi melalui pesan WhatsApp, memilih bungkam.

Penulis: Sholeh
Editor: redaksi
Publisher: awas.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *