Masalah Sampah di Pasar Gunungsari Mengganggu Aktivitas Jual Beli
Pasar Gunungsari, yang terletak di Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, kini menghadapi masalah besar akibat tumpukan sampah yang menyebar di sekitar area pasar. Kondisi ini telah menyebabkan gangguan terhadap aktivitas jual beli masyarakat setempat. Tidak hanya itu, bau busuk dari sampah juga mulai mengganggu kenyamanan pengunjung dan para pedagang.
Sampah yang menumpuk di sekitar pasar tidak hanya berasal dari aktivitas perdagangan, tetapi juga dari warga sekitar yang membuang limbah di tempat yang tidak semestinya. Hal ini membuat kondisi pasar semakin memprihatinkan. Pedagang seperti Muji mengeluhkan penurunan jumlah pembeli akibat situasi yang tidak bersih dan berbau.
Muji, salah satu pedagang di pasar tersebut, menjelaskan bahwa dirinya tetap membayar biaya kebersihan kepada petugas setiap harinya. “Kita setiap hari bayar uang kebersihan Rp3.000, uang lapak Rp3.000, dan jaga malam Rp1.000. Tapi sampah tetap numpuk. Malah bukan hanya sampah dari pasar, tapi dari warga sekitar juga masuk,” katanya.
Tumpukan sampah yang menumpuk juga sempat terbakar, sehingga menimbulkan asap pekat dan bau menyengat yang terasa selama lebih dari seminggu. “Kalau angin datang, asap dan baunya sampai masuk ke pasar. Kita juga enggak tahu siapa yang bakar, tiba-tiba saja terbakar,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Jumrah, seorang pedagang makanan ringan. Ia mengatakan bahwa tumpukan sampah mengundang banyak lalat dan menyebabkan beberapa pedagang tidak bisa berjualan karena lapaknya tertutup. “Beberapa pedagang sudah ndak bisa buka lapak. Kita protes kemarin, makanya sekarang mulai ada dua sampai empat truk datang angkut sampah,” ujarnya.
Masalah sampah di Pasar Gunungsari tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian para pedagang. Dengan kondisi yang tidak bersih, minat masyarakat untuk berbelanja pun menurun. Selain itu, bau busuk dan asap yang timbul dari tumpukan sampah juga mengganggu kesehatan para pengunjung dan pedagang.
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini, termasuk pengangkutan sampah oleh truk. Namun, hal ini masih belum cukup untuk mengatasi permasalahan secara keseluruhan. Masyarakat dan para pedagang berharap pemerintah setempat dapat memberikan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan agar kondisi pasar kembali nyaman dan bersih.
Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para pedagang dalam menjaga kebersihan lingkungan pasar. Edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan serta penegakan aturan terkait pembuangan sampah juga diperlukan agar masalah ini tidak terus berulang.
