Oleh:
Muhammad Isnaini
(Pemerhati Generasi Milenial dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi)
UIN Raden Fatah Palembang)
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H kembali hadir, menyentuh ruang batin umat Islam sebagai momen spiritual yang sarat makna.
Bagi generasi milenial yang hidup di tengah derasnya arus digitalisasi dan disrupsi nilai, peringatan ini seharusnya bukan sekadar penanggalan baru dalam kalender Hijriyah, melainkan pintu refleksi menuju transformasi diri yang lebih utuh.
Hijrah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang mengarah pada kemajuan spiritual dan sosial.
Berikut adalah nilai yang perlu ditanamkan kepada generasi muda Muslim saat ini: bahwa hijrah yang sejati adalah keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak bermanfaat menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bernilai ibadah.
Dalam perspektif keilmuan, makna hijrah dapat dijelaskan melalui teori transformative learning dari Mezirow (1997), yang menekankan pentingnya pengalaman mengguncang (disorienting dilemma) untuk memicu kesadaran baru dalam diri seseorang.
Bagi milenial, tantangan zaman—krisis makna, tekanan media sosial, dan kejenuhan spiritual—dapat menjadi pemicu untuk melakukan hijrah secara personal.
Ketika mereka mulai mempertanyakan kembali nilai-nilai yang mereka anut, refleksi itu membuka ruang untuk mencari makna baru dalam hidup, termasuk melalui pendekatan Islam yang lebih kontekstual dan relevan dengan zaman.
Praktik hijrah dalam kehidupan sehari-hari generasi milenial dapat dimulai dari hal-hal kecil namun dilakukan secara konsisten.
Membiasakan diri membuka hari dengan membaca satu ayat Al-Qur’an dan tafsir singkat sebelum membuka media sosial, menyisihkan waktu khusus setelah maghrib untuk detoks digital dan fokus pada ibadah, serta membuat konten dakwah sederhana yang menyentuh, seperti video pendek tentang hikmah sabar, berbagi jurnal syukur, atau menyebarkan kampanye hijrah yang menyatukan nilai-nilai spiritual dan sosial seperti #EcoHijrah yang mengajak pemuda peduli lingkungan.
Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kesadaran individu, tetapi juga memperkuat komunitas hijrah digital yang saling mendukung dan memberikan pendampingan secara emosional maupun spiritual.
Namun, penting juga untuk mengingat bahwa semangat hijrah yang menyala di platform digital harus dibarengi dengan literasi keislaman yang kokoh.
Fenomena merebaknya ustaz viral, kutipan agama yang dipotong-motong, hingga dakwah instan yang menggoda tanpa landasan ilmu yang mendalam menuntut generasi milenial untuk lebih kritis dan selektif.
Dalam hal ini, teori pembelajaran sosial dari Bandura (1977) sangat relevan—generasi milenial cenderung meniru tokoh yang mereka anggap kredibel. Oleh karena itu, kehadiran figur publik Muslim yang moderat, berilmu, dan komunikatif menjadi sangat penting untuk dijadikan rujukan dan model yang layak diteladani.
Hijrah yang dibangun atas dasar nilai keimanan yang kuat juga sejalan dengan teori penentuan diri (self-determination theory) (Deci & Ryan, 1985) yang menyebutkan bahwa perubahan akan langgeng ketika memenuhi tiga aspek penting: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Artinya, generasi muda akan menjadikan nilai hijrah sebagai gaya hidup jika mereka merasa memiliki kebebasan dalam memilih jalan itu, merasa mampu menjalankannya, dan merasa diterima serta dihargai dalam komunitasnya.
This is where the importance of creating a learning environment, both online and offline, that supports the growth of healthy and grounded modern spirituality comes into play.
1 Muharram bukan sekadar momentum untuk menatap tahun baru, tetapi panggilan untuk melakukan pembaruan diri secara nyata.
Peringatan ini mengajak generasi milenial untuk mentransformasikan media sosial menjadi ruang dakwah, menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperdalam iman, serta menyatukan semangat hijrah dengan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Sebagaimana pesan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 218), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah.”
Maka, jika generasi milenial mampu menjadikan hijrah sebagai gaya hidup berbasis nilai, maka Tahun Baru Islam tidak hanya diperingati dengan doa dan twibbon, tetapi benar-benar dihayati sebagai langkah awal untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih dekat dengan Tuhannya.
Namun, dalam perjalanan hijrah generasi milenial, kehadiran dan peran orang tua tetap menjadi kunci yang tidak tergantikan.
Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan zaman yang serba cepat, rumah adalah titik awal nilai-nilai ditanamkan.
Orang tua menjadi madrasah pertama, tempat anak belajar mengenal Allah, memahami makna hidup, dan menemukan arah spiritualitasnya. Bahkan ketika dunia luar menawarkan jutaan narasi yang bisa menyesatkan, suara dan teladan dari rumah seringkali menjadi jangkar yang paling kuat dalam membimbing anak untuk berhijrah secara utuh—baik dari sisi akidah, akhlak, maupun adab.
Orang tua yang ingin membimbing anaknya berhijrah harus lebih dulu menunjukkan bahwa hijrah itu mungkin, relevan, dan membahagiakan. Bukan dengan paksaan atau ceramah panjang, melainkan dengan keteladanan dalam tutur kata, kesabaran dalam mendidik, serta kesungguhan dalam menjalankan ibadah.
Anak yang melihat ayahnya istiqamah berjamaah di masjid atau ibunya mengisi pagi dengan membaca Al-Qur’an akan lebih mudah menyerap nilai-nilai tersebut tanpa harus banyak diberi teori.
Dalam konteks ini, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim), yang berarti bahwa lingkungan keluarga sangat menentukan arah spiritual seorang anak.
Lebih dari itu, orang tua masa kini dituntut untuk melek digital agar bisa hadir dalam dunia anaknya. Mengawasi bukan berarti mencurigai, dan mengarahkan bukan berarti mengontrol penuh, melainkan menjadi teman diskusi dan mitra belajar dalam proses pencarian jati diri anak.
Ketika anak mulai tertarik dengan konten-konten hijrah di media sosial, orang tua bisa menyambutnya dengan dialog yang sehat: bertanya, memberi masukan, lalu bersama-sama menggali kebenaran dari sumber yang otentik.
Bukan tidak mungkin, orang tua dan anak bisa berhijrah bersama, saling menyemangati, dan memperkuat keimanan dalam suasana keluarga yang penuh cinta dan keberkahan.
Dengan kata lain, keberhasilan hijrah generasi milenial tidak cukup hanya mengandalkan komunitas, media, atau sekolah.
Hal itu harus dibarengi dengan dukungan emosional dan spiritual dari rumah.
Orang tua yang hadir, memahami, dan menginspirasi akan menjadi pembimbing terbaik dalam perjalanan anak menuju Allah.
Dan bila keluarga-keluarga Muslim di Indonesia bergerak bersama dalam semangat hijrah ini, maka Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H bukan sekadar peringatan, tetapi tonggak perubahan sosial yang bermula dari dalam rumah—menuju masyarakat yang lebih bertakwa, adil, dan penuh harapan.
Perubahan itu, bagi generasi milenial, sesungguhnya bermula dari “titik identitas”—yakni ketika seorang anak muda mulai melihat dirinya bukan sekadar konsumen konten Islami, tetapi “pribadi muslim yang selalu bertumbuh.”
Konsep kebiasaan berbasis identitas menegaskan bahwa perilaku yang langgeng tidak dibangun pada tingkat target, melainkan pada lapisan keyakinan. “Aku bukan lagi sekadar ingin rajin salat; aku adalah hamba Allah yang selalu menjaga salat” (Clear, 2018).
Begitu identitas baru diterima, setiap tindakan harian—mulai dari menolak gosip digital hingga menyisihkan infaq QRIS—menjadi “suara” yang memilih diri baru itu, hari demi hari.
Agar identitas hijrah itu bertahan, proses perlu dipasangkan dengan sistem lingkungan yang mendukung, menata gawai dengan widget pengingat zikir, menumpuk (habit stacking) bacaan satu ayat setelah membuka kunci layar, atau menggabungkan (temptation bundling) tilawah dengan musik lo-fi favorit.
Penelitian menunjukkan bahwa desain lingkungan yang tepat—misalnya dengan menempatkan aplikasi Al-Qur’an di dock utama—dapat meningkatkan peluang kebiasaan baru untuk bertahan hingga 40 persen lebih lama (Clear, 2018).
Keberlanjutan hijrah juga didukung oleh kualitas motivasi. Teori Penentuan Diri (Self-Determination Theory) menyatakan bahwa perubahan yang paling bertahan lama muncul dari motivasi intrinsik yang memenuhi kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (Deci & Ryan, 1985).
Tinjauan mutakhir atas 15 studi teknologi perubahan perilaku menunjukkan: aplikasi yang hanya mengejar “engagement” tanpa menumbuhkan internalisasi nilai rentan ditinggal pengguna setelah euforia awal (Alberts et al., 2024).
Artinya, konten hijrah digital harus terus-menerus memberi ruang untuk refleksi—bukan sekadar notifikasi kuota bacaan—agar milenial benar-benar merasa “bertanggung jawab” atas perjalanan rohaninya.
Akhirnya, kelangsungan hijrah membutuhkan jembatan antara dunia online dan offline, agenda bakti sosial yang ramah lingkungan, kelas tahsin di masjid terdekat, hingga diskusi kitab bersama orang tua di ruang keluarga.
Ketika identitas baru (saya seorang muslim bertanggung jawab) mendapat dukungan teknologi, motivasi intrinsik, dan ekosistem rumah yang mengapresiasi, maka perjalanan hijrah generasi milenial tak berhenti di 1 Muharram semata, melainkan bergerak spiral, naik-turun namun terus maju, menebarkan keberkahan yang berkelanjutan bagi diri, keluarga, dan bumi. Wallahu a’lam bisshowab.
