mediaawas.com–
Pencurian pucuk teh dilaporkan marak terjadi di kawasan selatan Bandung dalam beberapa waktu terakhir pada tahun 2025. Sejumlah perkebunan teh besar maupun kebun teh milik rakyat kerap mengalami kehilangan pucuk teh.
Informasi yang diperoleh dari berbagai kalangan perkebunan teh dan petani teh di selatan Bandung, seperti di kawasan Pangalengan, Ciwidey, dan Gununghalu, Jumat, 27 Juni 2025, secara seragam menyebutkan bahwa pencurian pucuk teh meningkat akhir-akhir ini.
Disebutkan bahwa pencurian pucuk teh merupakan fenomena baru, sementara pencurian yang biasanya terjadi adalah pencurian teh yang sudah diolah di pabrik, yang kini sudah jarang terjadi. Pencurian pucuk teh terjadi di area-area kebun teh yang sedang tidak dalam jadwal panen.
Fenomena muncul
Salah seorang karyawan perkebunan teh di Pangalengan, yang mengaku bernama Wawan, menyebutkan bahwa fenomena ini jarang diketahui oleh manajemen perkebunan di atas. Namun demikian, pencurian pucuk teh cukup meningkat akhir-akhir ini.
Munculnya para penadah yang menampung pucuk teh hasil curian dari perkebunan besar maupun kebun milik petani. Seiring dengan itu, bisnis pengolahan teh skala kecil pun kini bermunculan di banyak tempat di Pulau Jawa.
“Kabarnya, oleh penadah, pucuk teh curian dibeli Rp 1.500/kg untuk dijual kembali antar kabupaten dan ke luar provinsi. Soal layu selama perjalanan jauh, tidak masalah, sebab nyatanya konsumen produksi teh kualitas asalan di pasar domestik itu tinggi, bahkan batang-batangnya pun laku,” katanya.
Salah seorang karyawan perkebunan teh di Ciwidey menduga pencurian pucuk teh terindikasi menunjukkan bahwa permintaan komoditas ini di pasar domestik sedang meningkat. Apalagi, sebagian pabrik teh yang tidak memiliki kebun kini mengalami kesulitan memperoleh bahan baku, sementara permintaan di pasar domestik terus meningkat.
Dalam kondisi ini, diduga sebagian pihak pabrik teh yang tidak memiliki kebun tidak mengetahui asal usul teh yang dibeli dari pemasok. Yang penting adalah ada pihak yang memasok pucuk teh untuk menjaga kelangsungan produksi di pabrik.
Fenomena ini, menurut dia, juga menjadi ancaman bagi para pemasok pucuk teh yang usaha hasil jujur membeli dari petani atau perkebunan. Sebab, penadah teh curian pastinya menjual dengan harga lebih murah sehingga harganya lebih rendah dibandingkan pemasok teh resmi yang membeli dari perkebunan atau petani teh.
Kepala Wilayah 2 PTPN I, Desmanto, menyebutkan adanya fenomena bisnis produksi teh skala besar dari pabrikan perkebunan. Penjualan teh dari PTPN I Wilayah 2 kini telah kembali meningkat.
“Bisnis teh tampaknya kini membaik, terindikasi pesanan pasar ekspor yang terus meningkat,” ucap Desmanto, ketika berada di perkebunan teh Malabar, Pangalengan, baru-baru ini. ***
