Daerah  

Hampir 1.000 jam di TV AS, strategi Netanyahu kompori Amerika menyerang Iran


Hampir 1.000 Jam di TV AS, Strategi Netanyahu Kompori Amerika Menyerang Iran

– Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka membahas strategi panjangnya dalam meyakinkan Amerika Serikat (AS) mengenai ancaman Iran.

Dalam wawancara dengan Channel 14 Israel pada Minggu, 30 Agustus 2026, Netanyahu juga mengungkap apa yang ia sebut sebagai salah satu modal penting dalam membangun pengaruhnya di Washington: hampir 1.000 jam tampil di televisi Amerika.

Pernyataan tersebut kembali menempatkan hubungan Netanyahu dengan elite politik Amerika dalam sorotan, terutama di tengah meningkatnya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Netanyahu, upayanya untuk meyakinkan Amerika agar melihat Iran sebagai ancaman langsung telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Hampir 1.000 jam” di Televisi Amerika

Netanyahu mengatakan dirinya telah menghabiskan waktu sangat panjang di media Amerika untuk menyampaikan pandangannya kepada publik sekaligus para pengambil keputusan.

“Saya mampu melakukan itu karena saya memiliki, saya tidak ingin mengatakan ribuan jam, tetapi hampir seribu jam, pengalaman di televisi Amerika, dengan kemampuan untuk memengaruhi Amerika Serikat, dan pengetahuan yang akurat tentang semua pemimpinnya,” kata Netanyahu.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai salah satu faktor yang membantunya menyampaikan pandangan Israel mengenai Iran kepada masyarakat dan kalangan politik Amerika.

Bagi Netanyahu, persoalannya bukan hanya membangun dukungan terhadap Israel, tetapi mengubah cara Washington melihat ancaman yang berasal dari Teheran.

Puluhan Tahun Mendorong AS Fokus Langsung ke Iran

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu mengatakan perjuangannya meyakinkan Israel dan Amerika Serikat mengenai Iran telah berlangsung selama hampir 40 tahun.

Menurutnya, selama bertahun-tahun ia berusaha mendorong lembaga keamanan Israel dan pemerintah Amerika agar tidak hanya berfokus pada kelompok-kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah.

Netanyahu ingin Iran sendiri ditempatkan sebagai pusat persoalan keamanan.

Ia mengatakan proses meyakinkan Washington untuk menerima pandangan tersebut “membutuhkan waktu lama”.

Pernyataan itu menjadi penting karena Netanyahu secara terbuka mengaitkan keberhasilannya membangun pengaruh di Amerika dengan aktivitas medianya, jaringan hubungan dengan para pemimpin Amerika, serta pengalamannya berkomunikasi dengan publik AS.

Tuai Kontroversi

Pernyataan Netanyahu kemudian menuai reaksi dari sejumlah aktivis dan pengkritik di Amerika Serikat.

Mereka menyoroti bukan sekadar jumlah waktu yang disebut Netanyahu berada di televisi Amerika, tetapi klaim bahwa pengalaman tersebut memberinya kemampuan untuk memengaruhi Washington.

Jurnalis Amerika Max Blumenthal mengatakan Netanyahu sedang berbicara kepada pemilih Israel dan membanggakan kemampuannya memengaruhi Presiden AS Donald Trump.

Menurut Blumenthal, pernyataan Netanyahu menggambarkan dirinya sebagai sosok yang selama bertahun-tahun berupaya “membangunkan” Amerika Serikat dari sikap yang dianggapnya terlalu lunak terhadap Iran.

Dalam interpretasi para pengkritiknya, Netanyahu sedang membangun narasi bahwa dirinya memainkan peran pribadi dalam menggeser kebijakan Washington hingga akhirnya Amerika mengambil tindakan militer terhadap Iran.

Namun, sejauh yang ditunjukkan pernyataan tersebut, Netanyahu tidak memberikan rincian mengenai keputusan spesifik di Washington yang secara langsung membuktikan bahwa penampilan televisinya menjadi penyebab keputusan militer AS.

Seberapa Besar Pengaruh Netanyahu?

Pertanyaan mengenai sejauh mana Netanyahu mampu memengaruhi kebijakan Amerika menjadi semakin sensitif karena hubungan strategis Israel-AS.

Netanyahu selama bertahun-tahun dikenal aktif berbicara di media Amerika dan berkomunikasi langsung dengan politisi AS.

Ia juga beberapa kali menggunakan forum politik Amerika untuk menyampaikan pandangan Israel mengenai Iran.

Dalam konteks politik Washington, pengaruh seorang pemimpin asing tidak bekerja melalui satu jalur saja.

Hubungan pribadi dengan pejabat, lobi politik, opini publik, media, kelompok kepentingan, serta kepentingan strategis kedua negara dapat berinteraksi dalam membentuk kebijakan.

Karena itu, klaim Netanyahu mengenai hampir 1.000 jam tampil di televisi lebih tepat dibaca sebagai penggambaran dirinya sendiri mengenai sumber pengaruh politiknya, bukan sebagai bukti tunggal bahwa Washington mengambil keputusan perang karena tekanan Netanyahu.

Araqchi Tuding Netanyahu “Menyeret” AS ke Perang

Pernyataan Netanyahu juga mendapat respons langsung dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Melalui akun X, Araqchi menuduh Netanyahu secara terbuka membanggakan keberhasilannya memengaruhi pemerintah Amerika hingga membawa Washington ke dalam perang melawan Iran demi kepentingan Israel.

Araqchi menyoroti kembali pernyataan Netanyahu mengenai pengalamannya tampil di televisi Amerika dan kemampuannya memengaruhi para pemimpin AS.

“Netanyahu secara terbuka membual bahwa dia telah menipu pemerintahan Amerika dan menyeretnya ke dalam perang melawan Iran atas nama Israel,” tulis Araqchi.

Ia kemudian menggunakan istilah “ular” untuk menggambarkan Netanyahu dalam kritiknya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana klaim Netanyahu mengenai pengaruhnya di Washington juga dimanfaatkan Teheran untuk memperkuat narasi bahwa konflik Amerika-Iran tidak terlepas dari kepentingan dan tekanan Israel.

Pengakuan Punya Makna Politik

Pernyataan Netanyahu pada dasarnya memiliki dua dimensi.

Di dalam negeri Israel, pengakuan mengenai perjalanan panjangnya menghadapi Iran dapat memperkuat citranya sebagai pemimpin yang sejak lama memperingatkan tentang ancaman Teheran.

Sementara di luar Israel, terutama di Amerika Serikat dan Iran, pernyataan mengenai kemampuannya memengaruhi Washington justru membuka perdebatan mengenai batas pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri dan keputusan militer Amerika.

Yang pasti, Netanyahu ingin menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh yang selama puluhan tahun mendorong Washington melihat Iran sebagai ancaman langsung.

Di tengah perang yang kembali melibatkan Amerika dan Iran, klaim tersebut memperoleh arti baru: bukan hanya soal sejarah hubungan Netanyahu dengan Washington, tetapi juga mengenai siapa yang dianggap memiliki pengaruh dalam keputusan yang membawa kedua negara kembali ke ambang konfrontasi terbuka.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *